Minggu, 17 Mei 2026

Seminar Diaspora

Agar Tetap Eksis, Orang Jawa di Suriname Pakai Nama Kaboel Karso

Kedatangan Kaboel Karso, keturunan jawa yang telah hidup di Suriname dan Belanda seminar diaspora atau persebaran orang jawa di Fakultas Ilmu Sosial U

Tayang:
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Parmin
surya/sulviana
Kaboel Karso (paling kanan) bersama orang-orang Jawa yang memahami diaspora Jawa di Suriname. 

SURYA.co.id | MALANG - Kedatangan Kaboel Karso, keturunan jawa yang telah hidup di Suriname dan Belanda untuk memberikan seminar diaspora atau persebaran orang Jawa di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang ( FIS UM).

Seminar ini merupakan perwujudan motivasi kepada mahasiswa Sosiologi untuk dapat menyambut globalisasi tidak hanya di negara sendiri. Namun, warga jawa juga dapat berkembang di negara lain.

Hal ini disampaikan Kepala Program Studi Sosiologi, Irawan MHum, 24 Agustus 2015.

"Seminar ini sebagai wujud apresiasi orang jawa dari Indonesia yang mampu bertahan dan berkembang dimanapun. Ini sebagau bentuk motivasi juga dalam era globalisasi bahwa orang jawa tidak hanya tinggal di Indonesia menerima Budaya budayamasuk. Namun, juga bisa ke luar negeri menyebarkan budayanya," jelasnya.

Dengan mempelajari mobilitas penduduk, dapat diketahui bahwa keturunan jawa ini berusaha untuk tetap hidup dan berhasil di negara lain. Bahkan memengaruhi bahasa masyarakat lokal.

"Cara mempertahankan budaya Jawa dengan memakai nama yang masih sanaat kental dengan jawa seperti Kaboel karso," jelasnya.

"Diaspora dalam sosiologi berkaitan dengan pesebaran sosial dan aspek budayanya," paparnya.

Perkembangan Budaya Jawa di Suriname menurut Kaboel juga berubah. Berbeda dengan adat jawa di Indonesia saat ini. Mulai dari bahasa Jawa yang digunakan di Suriname yang menggunakan bahasa ngoko Jawa yang bercampur dengan bahasa inggris. Bahkan bahasa ngokonya telah berubah dari Jawa asli, dan mereka sama sekali tidak bisa bahasa Jawa krama.

"Di sana masih ada yang namanya 'Banyu jaran', kalau di Jawa saat ini biasa disebut 'banyu anget' atau air hangat. Jadi bukan hanya bahasa Jawa yang saat ini sudah tidak ada di Indonesia yang digubakan, tetapi juga ada bahasa Jawa yang tercampur bahasa Belanda, Suriname atau bahasa etik dari Sunda atau lainnya," jelasnya

Orang Jawa yang tinggal di luar negeri, menurutnya, lebih fleksibel dan tidak sekreatif orang Jawa asli. Mereka banyak berbaur dengan masyarakat lokal hingga tak jarang ditemukan masyarakat lokal yang tinggal di daerah orang jawa sewaktu-waktu mengeluarkan bahasa Jawa seperti 'amit' yang berarti permisi.

"Makanan di sana juga ada macam-macam, bakwan juga ada, bahkan soto di Suriname juga ada tetapi cenderung ke soto khas Solo. namun pengucapan soto juga berubah menjadi Saoto," paparnya.

Karena perkembangan dan keberhasilan masyarakat Jawa untuk hidup di Suriname, orang Jawa di Suriname dulu 33.000 orang, sekarang 75.000 orang. Bahkan telah ada 28.000 masyarakat Jawa yang tinggal di Belanda.

Baca selengkapnya di Harian SURYA
LIKE http://facebook.com/SURYAonline
FOLLOW http://twitter.com/portalSURYA

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved