Tata Kota Surabaya
Shelter Bulak Surabaya Dibuka Sejak April, Sampai Kini Masih Mangkrak
Seharusnya Terminal Kenjeran, Surabaya sudah ke Shelter Bulak sejak April 2015 tapi karena para sopir menolak, terpaksa pakai terminal lama.
Penulis: Zainuddin | Editor: Yuli
SURYA.co.id | SURABAYA - Seharusnya Terminal Kenjeran, Surabaya sudah ke Shelter Bulak sejak April 2015. Karena para sopir masih menolak, Dinas Perhubungan ‘terpaksa’ mengoperasionalkan Terminal Kenjeran.
Kondisi Shelter Bulak belum ada perubahan sejak akan dioperasikan pada April 2015 lalu. Tidak ada penambahan atau perubahan bangunan atau tanaman. Bahkan listrik atau air bersih pun belum mengalir di Shelter Bulak. Mangkrak.
Setiap harinya ada dua petugas yang berjaga di Shelter Bulak, yaitu Ardi dan Menik. Dua penjaga ini awalnya bertugas di Terminal Kenjeran. Sejak Dishub berencana memindahkan Terminal Kenjeran, dua petugas ini pun diboyong ke Shelter.
Dua orang ini tidak melakukan aktivitas sebagai petugas Dishub di terminal lainnya. Mereka hanya bertugas membersihkan sampah di sekitar Shelter. Membersihkan Shelter mungkin hanya butuh dua atau tiga jam. Tapi dua penjaga ini tidak bisa langsung pulang.
“Pulangnya ya tetap sore seperti biasanya. Biasanya saya pulang sekitar pukul 16.00 WIB,” kata Menik, Sabtu (22/8/2015).
Karena hanya untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, tidak ada gedung khusus kantor di Shelter. Shelter ini hanya memiliki tiga bangunan, yaitu loket mikrolet, tempat menaikkan atau menurunkan penumpang, dan toilet. Tiga bangunan semi permanen ini terbuat dari besi dan seng. Tidak ada barang berharga, seperti seperangkat computer atau lainnya.
Menik menambahkan biasanya ada petugas Dishub yang datang ke Shelter. Tapi petugas ini tidak pernah lama. Setelah mengecek kondisi Shelter, mereka langsung keluar.
“Tanamannya banyak yang mati karena dimakan kambing,” tambahnya.
Seorang warga yang tidak mau menyebutkan namanya mengungkapkan Shelter itu tidak ada penjaga pada malam hari. Biasanya warga sekitar memanfaatkan Shleter itu untuk bermain bola pada sore hari. Bahkan ada pula pasangan remaja yang kencan di Shleter ini.
“Mau bagaimana lagi. Kalau siang hari, jarang ada yang bermain disini,” tambahnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dishub Surabaya, Irvan Wahyu Drajat belum dapat memastikan kapan Shleter itu akan beroperasi. Sejak para sopir menolak boyongan, pihaknya sudah mendekati Primer Koperasi Pangkalan TNI Angkatan Laut (Primkopal). Primkopal pun menunda memanfaatkan lahan itu, dan kembali menyewakan ke Pemkot. Tapi Irwan tidak mengungkapkan masa sewa lahan itu.
“Mungkin Primkopal masih memberi toleransi. Kami pun sudah menyediakan Shelter dan Terminal Kedung Cowek,” kata Irvan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/shelter-bulak-surabaya-kenjeran_20150822_200340.jpg)