Breaking News:

Tempo Doeloe

Kata Bung Karno, Gunung Kelud di Blitar

Hingga jadi Presiden, Bung Karno mudik ke Blitar, bukan Surabaya yang sekadar tempat tugas pertama guru Soekemi di Jawa setelah pergi dari Bali.

Penulis: Yuli | Editor: Yuli
badan arsip jatim
Rombongan Presiden Sukarno mengunjungi lereng Gunung Kelud sisi Blitar tahun 1951. 

Ini air ini harus dikeluarkan, harus dibuang, suapaya kalau api keluar, dia tidak mendidih, dan tidak meluap-luap, dia tidak membikin celaka kepada manusia di lereng gunung itu.

Apa daya. Gampang buat insinyur. Insinyur membuat terowongan, dibor, Saudara-saudara. Telaga itu tentu mempunyai, apa itu, mempunyai tebing-tebing, mempunyai wadah air itu, seperti periuk Saudara-saudara, ini dibor, dibor dengan terowongan, bahasa asingnya canal. Sehingga lantas air ini keluar dari canal, terowongan ini, terbuang, sehingga telaga ini boleh dikatakan hampir kosong, tinggal sedikit.

Nah, ternyata di dalam tahun 1953, tatkala di dalam tahun 1953 itu buat kesekian kalinya Gunung Kelud meledak, api muncrat-muncrat, tetapi karena telaga ini kosong atau hampir kosong, tidak terjadi lahar. Dan di dalam peledakan Gunung Kelud tahun 1953 itu hanya 7 orang manusia mati.

Dulunya, saya mengalami sendiri, tahun 1919, yang mati berapa? Satu kali lahar turun itu, 6.700 manusia, sekian ribu kerbau, sekian ribu sapi, sekian ribu kambing, sekian ribu rumah, hancur-lebur sama sekali, dan sekian ribu hektare sawah tidak bisa ditanami lagi.

Karena sang sawah yang tadinya tanah subur, sesudah dilanda oleh lahar itu, sang sawah ini kemudian tertutup pasir yang lebih tebal dari setengah meter. Sekarang sesudah otak teknik mengebor telaga ini, Saudara-saudara, bahaya lahar boleh dibilang hilang sama sekali (istilah otak teknik atau otak insinyur ini sebenarnya mengacu pada upaya pengeboran sejak zaman Belanda tetapi Bung Karno tidak menyebutkannya, redaksi).

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved