Rabu, 6 Mei 2026

Pendaki Gunung Semeru Hilang

Kami Sudah Mendekati Puncak Semeru, Ada Yang Teriak, Awas Batu!

Batunya udah kecil sebenarnya, tapi kencang. Setelah kena kaki kakak, terus ke korban yang cewek (Dania), tepat kena di wajahnya.

Tayang:
Penulis: Dyan Rekohadi | Editor: Titis Jati Permata
surya/dyan rekohadi
Suasana pendakian di lereng Mahameru, Gunung Semeru. 

SURYA.co.id | MALANG - Dua pendaki gunung Semeru menjadi korban longsoran batu di area lereng puncak Mahameru, Rabu (12/8/2015) pagi.

Satu korban perempuan, Dania Agustina, meninggal dunia di lokasi, satu lagi mengalami patah tulang kaki, yaitu M Rendika.

Dalam pendakian itu Rendika berangkat berdua dengan adiknya, Yoga Aditya, masuk dalam anggota rombongan Open Trip

Rendika dan Yoga yang tercatat sebagai warga jl Penguin 7 desa Kenanga Baru Kecamatan Pecut Sei Tuan Deliserdang Medan, saat ini tinggal di Jakarta.

Yoga menyebut, ia dan kakaknya belum saling kenal dengan anggota kelompok pendakian itu sebelumnya.

Di antara anggota kelompok mayoritas juga belum saling kenal. Mereka baru bertemu saat berangkat ke Semeru.

Pernyataan Yoga dibenarkan Hendri, ketua kelompok pendakian yang menyebut ia dan beberapa orang menjadi panitia pendakian menawarkan jadwal pendakian ke Semeru bersama.

Ada 12 orang yang tergabung dalam kelompok pendakian Hendri. Mayoritas peserta kelompok berasal dari kawasan Jabotabek.

Mereka memulai perjalanan dengan menumpang kereta api ke Kota Malang. Saat di stasiun Malang, jumlah anggota kelompok bertambah. Ada tujuh orang lagi yang bergabung.

Dari Malang mereka langsung berangkat mendaki ke gunung Semeru bersama sebanyak 19 orang. Perjalanan pendakian dimulai Senin (10/8/2015) setelah melapor ke pos TNBTS di Ranupane.

Dari Ranupane, rombongan sempat bermalam di Ranukumbolo. Selanjutnya bermalam lagi di pos Kalimati.

Dari pos Kalimati ini mereka melakukan pendakian ke puncak Mahameru ( Summit Attack) pada Rabu (12/8/2015) pukul 00.00 WIB.

Hanya ada 18 anggota rombongan yang melanjutkan pendakian ke puncak Semeru.

Satu anggota kelompok, seorang perempuan, memilih menunggu di Kalimati karena kondisinya tidak memungkinkan untuk ikut ke puncak.

Hendri mengakui jika izin pendakian mereka hanya sebatas pos Kalimati. Tapi mereka nekad melanjutkan pendakian ke puncak karena kepalang tanggung.

"Semua orang kalau ke Semeru ya inginnya ke puncak, kami lanjutkan ke puncak. Lagipula semua pendaki saat itu semuanya juga ke puncak. Mungkin ada kalau 200 an orang yang naik ke puncak, ramai sekali yang naik ke puncak," ungkap Hendri yang mengaku asal Bogor .

Tapi keputusan mereka terus mendaki ke puncak berujung kejadian fatal. Belum sampai menyentuh puncak Mahameru, peristiwa ngeri itu terjadi.

Sekitar pukul 07.00 WIB baik Yoga maupun Hendri mendengar teriakan peringatan ada batu jatuh dari para pendaki lain. Saat itu posisi Hendri jauh di atas rombongan kelompoknya.

"Waktu itu sudah terang, matahari sudah terbit, karena ada suara ribut itu saya lihat ke bawah, saya masih bisa lihat ada batu berguling, terus meluncur ke bawah sampai batas vegetasi," kata Hendri.

Yoga dan Rendika yang masih bergerak dalam posisi bersamaan dengan mayoritas anggota kelompok, berada di bawah titik asal longsoran batu.

"Kami sepertinya sudah mendekati puncak. Di atas tiba-tiba ada yang teriak "awas batu!" Lalu diteriaki lagi, "batu ke kiri", pendaki pada bergeser ke kanan. Batunya segede helm, tapi batu itu membentur tebing lagi, pecah jadi dua dan berpencar. Batunya ada yang ke kiri dan yang ke kanan," terang Yoga yang posisinya berdekatan dengan kakaknya dan korban Dania Agustina ( korban yang meninggal).

Yoga menyebut posisinya sedikit di atas sang kakak. Sedangkan korban Dania berada di bawah Rendika.

"Batunya udah kecil sebenarnya, tapi kencang. Setelah kena kaki kakak, terus ke korban yang cewek (Dania), tepat kena di wajahnya, sepertinya langsung meninggal," papar Yoga.

Menurut Yoga saat itu Dania berdua dengan seorang rekannya. Dania bukan bagian dari kelompok pendakian Yoga dan Hendri.

Sebagai gambaran, area atau jalur pendakian menuju Mahameru merupakan medan yang sepenuhnya terdiri dari pasir dan bebatuan labil dengan tingkat kemiringan sekitar 45 derajat.

Di lokasi ini pergerakan pendakian dilakukan dengan merangkak. Para pendaki harus berbaris beriringan untuk bisa menuju puncak.

Selain Dania dan Rendika, sebenarnya ada satu korban longsoran batu lainnya. "Ada satu ibu-ibu, posisinya jauh di atas rombongan, dia terpental masuk jurang tapi gak dalam, dia hanya mengalami memar di tangannya," ungkap Hendri.

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok
LIKE Facebook Surya - http://facebook.com/SURYAonline
FOLLOW Twitter Surya - http://twitter.com/portalSURYA

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved