Muktamar NU
Mantan Wakil Khatib Syuriah PBNU Tolak Hasil Muktamar NU
Saat itu, jumlah AHWA bukan sembilan orang, tetapi sebelas orang, ditambah Gus Ipul (Saifullah Yusuf) dan Nusron Wahid.
Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Yuli
SURYA.co.id | JEMBER - KH Afifudin Muhajir, Wakil Khatib Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2010 - 2015, menyatakan tidak mengakui hasil muktamar NU ke-33 di Jombang.
Salah satu pengasuh di Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo itu tidak mau masuk dalam kepengurusan PBNU selanjutnya, 2015 - 2020.
"Secara pribadi saya tidak mengakui hasil muktamar ke-33 kemarin. Ini pernyataan pribadi saya, silahkan yang mau mengakui, silakan juga yang tidak mau mengakui," ujar Kiai Afifudin saat berada di Jember, Minggu (9/8/2015).
Menurut kiai yang dikenal sebagai ahli tasawuf itu, ada sejumlah pertimbangan mengapa dirinya tidak mengakui hasil Muktamar Jombang. Pertimbangan itu antara lain bermula dari penerapan sistem pemilihan melalui Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar ke-33.
“Sistem AHWA yang digunakan tidak sesuai dengan AD/ART NU. Dalam AD/ART NU masih mengatakan bahwa ketua umum dan rais syuriah masih dipilih secara langsung. Artinya, kalau mau menggunakan sistem AHWA maka AD/ART harus diubah dulu," ujar Afifudin.
Perubahan AD/ART itu dilakukan di forum muktamar, dan harus disetujui sebagai muktamirin (peserta muktamar). Namun persoalannya, lanjutnya, sejak awal pelaksanaan muktamar sudah ada pemaksaan untuk menerima sistem AHWA kepada peserta.
Pemaksaan itu terjadi saat registrasi peserta, yang akhirnya menimbulkan sejumlah kekisruhan, lanjut Afifudin.
Afifudin kemudian menceritakan pertemuan yang digelar sejumlah kiai sepuh, dan rais syuriah se-Indonesia yang dipimpin oleh KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Senin (3/8/2015). Dalam forum syuriah itu, Afifudin merupakan salah satu peserta.
“Dalam forum itu beliau (Gus Mus) menyampaikan jika kiai dipilih kiai, artinya Rais Aam dipilih rais- rais, itu sesungguhnya tawaran juga, dan semuanya sepakat waktu itu, termasuk saya juga sepakat. Tetapi, hal itu juga mengandung dua pengertian, pertama rais- rais memilih langsung rais aam, atau rais- rais hanya memilih anggota AHWA,” kata Afifuddin.
Namun ternyata tawaran itu, lanjut Afifudin, tidak dijalankan sebab anggota AHWA tidak dipilih oleh rais- rais syuriah, melainkan dipilih oleh panitia. Ia menambahkan, pemilihan itu pun berdasarkan ranking pada saat registrasi muktamirin.
"Dan saat itu, jumlah AHWA bukan sembilan orang, tetapi sebelas orang, ditambah Gus Ipul (Saifullah Yusuf) dan Nusron Wahid,” pungkasnya.
Karena sejumlah pertimbangan itulah, secara pribadi ia tidak mengakui hasil Muktamar NU ke-33 itu. Ia juga menolak masuk ke kepengurusan PBNU periode selanjutnya.