Berita Malang Raya

Gending Malang Riwayatmu Kini

Perbedaan yang lain, nada Gending Malang terdengar ritmik, dan membuat yang mendengar untuk bergerak alias menari.

Penulis: Adrianus Adhi | Editor: Wahjoe Harjanto
zoom-inlihat foto Gending Malang Riwayatmu Kini
surya/adrianus adhi
NYARIS PUNAH - Sumantri, pemain Kendang Jegdong memimpin teman-temannya bermain Gending Malang yang nyaris tak pernah didengarkan oleh masyarakat di kotanya sendiri, Rabu (5/8/2015).

SURYA.CO.ID | MALANG - Alunan Gending Jawa terdengar dari sebuah rumah berdinding anyaman bambu alias gedek bercat putih di Jl Pelabuhan Bakauhuni, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Rabu (5/8/2015) siang.

Suara musik yang mereka mainkan tak jauh berbeda dengan Gending Mataraman atau dari Kerajaan Mataram, yang merupakan pusat perhatian kesenian tradisional selama ini. Suara Gending yang terdengar harmonis dan pelan namun menyentuh.

Kendati demikian, komposisi ketukan, variasi ketukan, serta nada yang para pelaku seni ini pilih sangat beragam. Variasi nada dari gamelan yang mereka mainkan ada banyak dan terus berulang-ulang.

Suara gendang yang mereka mainkan juga terdengar sangat keras dan menggema tak seperti Gending Mataraman. Usut punya usut, gendang mereka saat itu berukuran besar. Diameternya sekitar 50 cm. Gendang saat itu dimainkan oleh Sumantri (61), pemilik rumah tersebut.

Sumantri bercerita, dirinya dahulu merupakan pemain Kendang Jegdong untuk pertunjukan Wayang Jegdong. Nama Jegdong diambil dari iringan musik pembuka kepyang, kendang dan gong. Ketika tiga alat musik ditabuh, muncul bunyi ‘jek dong’. Sayangnya, Wayang Jegdong saat ini sudah punah.

Begitupula dengan Gending Malang, yang sudah tergusur dengan Gending Mataram. “Padahal, usia Gending Malang ini lebih tua daripada Gending Mataram, tetapi yang lebih dikenal adalah Gending Mataraman,” kata Sumantri seusai memainkan Gending Malang bersama teman-temannya.

Walau demikian, semangat Sumantri melestarikan Gending Malang sangat besar. Dia tetap mempertahankan kesenian asli Malang melalui sejumlah pertunjukkan seni. “Walau tidak diminta, saya selip-selipkan sedikit. Supaya masyarakat tahu,” katanya.

Alasan dia yang lain, supaya nasib Gending Malang tak sama dengan Wayang Jegdong yang telah punah. Satu-satunya dokumentasi tentang Wayang Jegdong hanya bisa diperoleh lewat penampilan dalang asal Sengguruh Kepanjen, Ki Matadi yang sudah wafat.

Usahanya itu akhirnya berhasil karena dia pernah diminta membuat lagu Tri Bina Cipta Tahun 2005 dengan latar Gending Malang. Proyek yang didanai pemerintah itu berhasil, tapi tak pernah terdengar hingga kini.

“Saya tidak tahu mau diapakan lagu tersebut, padahal lagu ini bisa mengangkat citra Malang. Masyarakat juga tahu bentuk Gending Malang jika didengarkan,” tambahnya.

Dia mencontohkan, dengan kondisi kesenian di Kota Semarang yang selalu memutar Gending Pesisir Khas Semarang di tempat umum, seperti terminal, atau stasiun kereta api. “Ketika tiba di sana, masyarakat tahu. Oh.. saya ada di Semarang karena gendingnya berbeda,” katanya.

Sumantri memaparkan, Gending Malang memiliki banyak perbedaan dari gending yang lain. Perbedaan pertama adalah ukuran kendang yang lebih besar. Perbedaan kedua adalah tambahan Patet Miring dalam sebuah komposisi.

Patet miring ini merupakan patet yang ditambahkan sebelum Patet Serang atau setelah Patet Sembilan. “Misalnya nadanya diawalnya lima, lalu akhirnya adalah lima. Maka sebelum lima yang terakhir, ada empat, tiga, tergantung dari komposisinya. Patet Miring ini transisi,” jelasnya.

Perbedaan yang lain, nada Gending Malang terdengar ritmik, dan membuat yang mendengar untuk bergerak alias menari. Dan yang juga menarik, Gending Malang juga harus dimainkan dengan bebauan dupa.

Menurut, Suwarno (56), rekan Sumantri yang turut dalam nostalgia Gending Malang kala itu, menyan dan dupa selalu ada selama pertunjukan. “Tradisi di Malang adalah bakar menyan, dupa, lalu gending dibunyikan,” jelasnya.

Dosen Program Studi Tari dan Musik Fakultas Sastra Unversitas Negeri Malang, Robby Hidayat, yang hadir dalam pertunjukkan tersebut menambahkan, Gending Malang kini semakin langka, seiring perkembangan jaman.

Menurutnya, Gending Malang dahulu dimainkan untuk mengiringi seni Tari Topeng, Tayup, Ludruk, Wayang Topeng dan Wayang Kulit. Kini hanya Tari Topeng dan Wayang Topeng yang diiringi Gending Malang. Walau begitu, jumlah seniman yang menggunakan gending ini sedikit.

Selain tak pernah dipopulerkan, Robby menilai Gending Malang digolongkan pelaku kesenian dalam kelas dua. Akibatnya, masyarakat saat ini masih beranggapan bahwa kasta utama kesenian tradisional adalah yang berasal dari Kerajaan Mataram, atau yang berbasis di Solo dan Jogjakarta.

Robby menambahkan, usaha untuk mendokumentasikan Gending Malang kini mulai berdatangan. Selain dari kaum akademisi di Malang, Institut Seni Indonesia (ISI) di Solo juga tertarik mendokumentasikannya. Mereka datang Rabu (5/8/2015) sore.

Tak hanya itu, Gending Malang juga akan menjadi bahan perkuliahan mahasiswa jurusan pedalangan dan karawitan di Solo. Lalu bagaimana dengan Malang? Jawaban itu masih belum bisa disampaikan.

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok.
LIKE Facebook Page www.facebook.com/SURYAonline
FOLLOW www.twitter.com/portalSURYA

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved