Minggu, 19 April 2026

Berita Bojonegoro

Akibat Amuk Massal, Produksi Minyak 35.000 Barrel per Hari Stop Sementara

“Produksi diputus (dihentikan) oleh EMCL dan SKK Migas, distop, pekerjaan distop sampai semua dinyatakan celar,” beber Bupati Suyoto.

Penulis: Iksan Fauzi | Editor: Yuli
iksan fauzi
Kerusuhan pekerja PT Tripatra di lokasi Engineering Procurement Construction (EPC)-1, proyek Banyuurip Gayam-Bojonegoro, Sabtu (1/8/2015). 

SURYA.co.id | BOJONEGORO - Akibat amuk massal di lokasi Engineering Procurement Construction (EPC)-1, proyek Banyuurip Gayam-Bojonegoro, manajemen Exxonmobil Cepu Limited (EMCL) menghentikan sementara produksi minyak.

Hal itu diungkapkan oleh Bupati Bojonegoro, Suyoto usai menemui pihak menejemen PT Tripatra dan EMCL di lokasi kerusuhan, Sabtu (1/8/2015) siang.

“Produksi diputus (dihentikan) oleh EMCL dan SKK Migas, distop, pekerjaan distop sampai semua dinyatakan celar,” beber Suyoto.

Belum dipastikan, kapan produksi minyak yang menjadi andalan pemerintah Indonesia itu kembali berproduksi. Kata Suyoto, agar bisa beroperasi kembali, perlu pengecekan lebih dulu. Tentunya, ia berharap, produksi bisa dilakukan kembali secepatnya dan pengerjaan proyek EPC bisa jalan kembali.

“Pada senin besok, saya akan mengundang berbagai pihak untuk bertemu guna mengevaluasi dan menentukan langkah-langkah pasti supaya bisa tepat waktu pengoperasiannya,” katanya.

“Tidak ada produksi sementara, sampai keamanan normal kembali, savety seluruh sistem perlu dicek ulang,” ujarnya.

Infromasi yang didapatkan Suyoto dari pihak operator EMCL, dari lima sumur minyak, empat pengeboran dihentikan. Satu sumur yang masih beroperasi berproduksi 20.000 barrel per hari, sedangkan lainnya dihentikan.

“Khusus produksi minyak di EPC 1 (saat ini) sekitar 35.000 barrel per hari akan dinaikkan menjadi 65.000 barrel per hari, naik lagi menjadi 95.000 barrel per hari, akhir tahun ini diharapkan bisa menjadi 165.000 barrel per hari,” urainya.

Berapa kerugian akibat menghentikan produksi? Suyoto menyatakan belum bisa menghitung. “Kalau sekarang belum ketahuan, nanti Senin akan diketahui,” tukasnya.

Menurutnya, berhentinya produksi minyak itu berdampak pada bagi hasil migas kepada Pemerintah Bojonegoro. Kata Suyoto, “Tentu, kalau produksi tertunda, bagi hasil migas berkurang. Dana Rp 2 juta masing-masing anak-anak tak mampu bisa tidak bisa terlaksana, yang rugi siapa? Kita semua,” pungkasnya.

Tags
ExxonMobil
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved