Pendangkalan Waduk Dawuhan Bakal Dikeruk

Meski petani menerapkan sistem tanam padi-padi-padi pihaknya tetap akan melaksanakan pembagian air secara koefisien

Penulis: Sudarmawan | Editor: Wahjoe Harjanto
zoom-inlihat foto Pendangkalan Waduk Dawuhan Bakal Dikeruk
surya/sudarmawan
SIDAK - Kadis PU Pengairan Pemkab Madiun, RM Hekso Setyo Raharjo bersama sejumlah staf melaksanakan inspeksi mendadak (Sidak) di Waduk Dawuhan, Kamis (30/7/2015).

SURYA.CO.ID | MADIUN - Waduk Dawuhan di Desa Plumpungrejo, Kecamatan Wonoasri dan Waduk Notopuro di Desa Duren, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, akan dikeruk untuk antisipasi kekeringan musim kemarau 2015.

"Sekarang kapasitas Waduk Dawuhan tinggal 1,3 juta meter kubik dari sebelumnya 5,425 juta meter kubik. Rencananya 3 sampai 4 hari bakal dikeringkan untuk pengerukan," terang Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan Pemkab Madiun, RM Hekso Setyo Raharjo kepada Surya, Kamis (30/72015) di Waduk Dawuhan.

Kalau selesai, dilanjutkan Waduk Notopuro dan Wates. Mumpung musim kemarau ada penyusutan air," tambahnya.

Waduk Dawuhan selama ini mencukupi air untuk lahan pertanian di Kecamatan Wonoasri, Madiun dan Balerejo, Waduk Notopuro untuk Kecamatan Pilangkenceng dan Kecamatan Saradan serta Waduk Wates untuk Kecamatan Mejayan dan Saradan.

Sementara Waduk Notopuro dengan kapasitas 2 juta lebih meter kubik saat ini masih ada sekitar 1,5 juta meter kubik. "Makanya saat ini terjadi pendangkalan sekitar 10 persen karena air dari hutan kayak Waduk Dawuhan sudah dikeruk paska pengerukan terakhir Tahun 2010," urainya.

Hekso meminta kerjasama petani dan juru pengatur pengairan untuk pemanfaatkan air lahan pertanian seefisien dan seefektif mungkin. Selain itu, petani harus menggunakan air dengan pengendalian dan penggunaan sesuai azas kemanfaatan agar efektif.

"Pembagian air ada aturannya. Itu sudah kami sosialisasikan. Kami akan terus mengajak UPT PU Pengairan tetap melaksanakan sosialisasi agar bisa melalui musim tanam hingga panen di musim kemarau panjang ini," jelasnya.

Kepala UPT PU Pengiaran Mejayan, Sutrisno menegaskan, meski petani menerapkan sistem tanam padi-padi-padi pihaknya tetap akan melaksanakan pembagian air secara koefisien, tetap 1 liter per detik per tanaman dengan asumsi tetap menanam palawija.

"Misalnya, di Dawuhan ada 36 hektar sawah sebagian ditanami palawija dan masih ada yang menanam padi pada Masa Tanam ketiga (MT-3) ini tetap jatah airnya sama kami anggap kayak menanam palawij. Ini demi efektitas dan efisiensi," pungkasnya.

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok.
LIKE Facebook Page www.facebook.com/SURYAonline
FOLLOW www.twitter.com/portalSURYA

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved