Pendidikan di Surabaya

Buku Pelajaran Kurikulum 2013 Laris di Surabaya

Di beberapa toko buku dijual bebas dari mulai buku tema 1 sampai 8 untuk kelas 1-3, dan buku tema 1-9 untuk kelas 4-6.

Buku Pelajaran Kurikulum 2013 Laris di Surabaya
merita nirmala
Pembeli dan penjual yang buku pelajaran K-13 di Surabaya 

SURYA.co.id | SURABAYA - Buku pelajaran Kurikulum 2013 dijual murah sehingga laris manis diserbu para orangtua di beberapa pasar buku di Surabaya, Kamis (30/7/2015).

Di beberapa toko buku dijual bebas dari mulai buku tema 1 sampai 8 untuk kelas 1-3, dan buku tema 1-9 untuk kelas 4-6. Semua memiliki harga masing-masing, dari mulai harga sekitar Rp 15.000 - Rp 25.000.

Pada kurikulum ini, buku yang akan diajarkan kepada siswa disubsidi oleh pemerintah melalui BOS. Namun nyatanya hingga H+3 hari pertama masuk sekolah jumlah buku yang ada di beberapa sekolah, masih kurang, sehingga itulah mengapa para wali murid lebih memilih tetap membeli buku di luar sekolah.

Di antara mereka ada yang mengaku karena, selain jumlah yang tidak sesuai kebutuhan, larangan untuk mencorat-coret dan membawa pulang buku membuat para siswa kesulitan belajar. “Ya namanya kan anak SD, kalau nggak ditulis di bukunya langsung gitu suka susah. Terus kalau hilang suruh ganti. Namanya anak-anak agak sulit kalau suruh jaga barang kan,” kata salah satu pedagang buku sekaligus orang tua murid yang tak mau disebutkan namanya.

Beberapa pedagang mengaku sudah kehabisan buku. “Ambilnya baru tadi pagi padahal, berapa kodi gitu tadi. Tapi banyak yang beli, jadi udah habis jam segini”, jelas salah satu pedagang. Mereka mengambil buku dari salah satu agen buku.

Seorang pedagang yang juga orangtua murid memberi saran, jika ingin membeli buku tema lebih baik langsung untuk 1 semester, karena jika ingin membeli pada tengah semester ditakutkan buku temanya sedang habis di pasaran.

Penerapan kurikulum 2013 yang dimulai sejak tahun 2014 di seluruh sekolah baik yang berada dibawah naungan Kemendikbud dan Kemenag berdampak pada tingkat penjualan pedagang buku di daerah Pasar Blauran Surabaya. “Sekarang lebih jualan ke yang K-13 soalnya kalau jual yang kurikulum lama takutnya rugi nggak laku,” tutur salah satu pedagang berinisial PT

Murid SD menggunakan satu buku yang didalamnya sudah mencakup beberapa mata pelajaran, seperti matematika, bahasa indonesia, PKN, IPA, dan IPS.

Manfaat penerapan kurikulum 2013 nampaknya belum terlalu dirasakan oleh para murid, sebaliknya justru sebagian orangtua merasa kurikulum ini kurang efektif dibanding kurikulum yang diterapkan sebelumnya.

“Yang sekarang itu terlalu simple, cuma poin-poinnya aja jadi anak itu kurang menguasai betul pelajarannya,” tambahnya lagi. Untuk mengatasi hal ini para wali murid yang inisiatif umumnya langsung mencari buku-buku pendamping untuk menunjang proses belajar anak.

Salah satu orangtua mengatakan kalau dia lebih suka kurikulum yang dulu. Pelajaran yang diajarkan sendiri-sendiri, sehingga jadi lebih rinci dalam pembelajarannya. Dia juga tidak menggantungkan buku dari pemerintah saja untuk anaknya, tetapi juga membelikan soal-soal lain untuk dapat dipelajari oleh anaknya.

Selain dalam bentuk hardcopy, sebenarnya para siswa juga dapat mengunduh buku dalam bentuk softcopy tetapi jika dibuat dalam bentuk buku maka biaya yang dikeluarkan wali murid akan lebih banyak, “ kalau di print atau di fotocopy jatuhnya jadi lebih mahal mangkannya banyak yang milih beli sendiri,” ujarnya.

Ketua Dewan Pendidikan Dinas Pendidikan Surabaya, Martadi, mengungkapkan kekhawatiran apabila buku pelajaran K-13 ini disalahgunakan oleh oknum pencetak buku.

"Memang buku ini diserahkan ke masyarakat. Jadi silahkan membuat atau mencetak buku tapi harus nasional. Jadi nggak perlu lagi menunggu dari pusat. Nah yang menjadi kekhawatiran ialah sekolah itu bekerja sama dengan pihak tertentu memanipulasi buku itu," ungkapnya. Dian Ariani/Jeanni/Sanny Eka Putri

Penulis: Sany Eka Putri
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved