Pendidikan di Surabaya

SMAN 18 Surabaya Menjawab Ihwal Bullying saat Orientasi Siswa

Karena fotonya dicoret-coret, orangtua MRA, Yuliati Umrah, tidak terima dan sempat bersitegang dengan pihak sekolahnya.

SMAN 18 Surabaya Menjawab Ihwal Bullying saat Orientasi Siswa
surya/magdalena fransilia
Siswa SMAN 18 Kota Surabaya, mengikuti ujian sekolah Computer Base Test (CBT), Senin (2/3/15). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Tudingan bullying hingga kekerasan seringkali terjadi ketika Layanan Orientasi Siswa (LOS) digelar. Seperti yang dialami oleh MRA siswa baru SMAN 18 Surabaya.

Karena fotonya dicoret-coret, orangtua MRA, Yuliati Umrah, tidak terima dan sempat bersitegang dengan pihak sekolahnya. Tudingan bullying juga terjadi di SDN Banyuurip karena siswa baru disuruh memakai topi dari bola sepak.

Humas SMAN 18 Surabaya, Suci Lestari menambahkan bila coret-coret wajah yang kemudian difoto dan ditempelkan di ID Card merupakan bentuk kreatifitas OSIS supaya siswa baru tidak mengenakan make up di sekolah.

“Bukan untuk bullying. Ya kami minta maaf jika tindakan ini disalah artikan. Tapi, dari 280 siswa hanya satu siswa saja yang merasa dibully dengan kegiatan itu,” kata Suci.

Bahkan, lanjutnya, 279 dari 280 siswa mengaku senang dengan kegiatan itu dan menganggap hal wajar.

Kepala Dinas Pendidikan Surabaya, Ikhsan juga menyatakan hal yang sama. “Setiap anak memiliki karakter psikis yang berbeda. Dari pihak sekolah berusaha komunikasi dengan orangtua atas kegiatan yang dilakukan di sekolah. Dari mulai nama kegiatan hingga tujuannya,” papar Ikhsan ketika dihubungi, Selasa (28/7/2015).

Lalu bagaimana dengan peraturan soal pelaksanaan LOS di Surabaya, apakah Dindik Surabaya sudah membuat peraturan itu?

Ikhsan menyatakan sudah ada peraturan dan instruksi LOS tanpa perpeloncoan, bullying dan kekerasan di sekolah. Akan tetapi, diakui masih belum ada peraturan terkait item-item soal seringkali disebut perpeloncoan, bullying dan kekerasan.

“Setiap guru, orangtua dan anak punya pandangan berbeda soal bullying, perpeloncoan ataupun kekerasan. Yang penting saling memahami dan saling menjelaskan” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Surabaya, Martadi menjelaskan belum adanya item-item peraturan itu yang membuat orang tua dan siswa menganggap beberapa kegiatan dalam LOS sebagai ajang perpeloncoan dan kekerasan.

“Di hari terakhir LOS, kami tegaskan agar jangan melakukan perlakuan yang tidak pada tempatnya," tandasnya.

Ia mencontohkan seperti yang terjadi di SDN Banyu Urip. Yang dimana siswa barunya memakai topi yang dibuat dari bola plastik. "Kalau kayak gitu kan tidak pada tempatnya. Ya nggak wajar. Tetapi kalau seperti sarung di selempangkan, itu masih wajar karena ketika ditanya mengapa seperti itu, jawabnya ingin menunjukkan budaya Indonesia," paparnya.

Dari kejadian selama LOS dua hari ini, pihaknya akan membuat peraturan terkait LOS untuk tahun 2016 mendatang.

”Jadi nanti yang wajar dan pada tempatnya. Salah satu peraturan soal penggunaan materi, dan akseroris yang digunakan. Misalnya, topi ya digunakan di kepala. Bukan bola sepak yang digunakan untuk topi. Kayak tidak ada topi lain saja," paparnya.

Tags
bullying
Penulis: Sany Eka Putri
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved