Pendidikan di Surabaya

Ada Bullying di SMAN 18 Surabaya, Siswa Baru Mogok Orientasi

Siswa baru yang berinisial MA ini, saat pra LOS Sabtu (25/7/2015) lalu sudah merasakan gerak-gerik tidak baik dari kakak kelasnya.

Ada Bullying di SMAN 18 Surabaya, Siswa Baru Mogok Orientasi
ilustrasi

SURYA.co.id | SURABAYA - Ternyata kegiatan LOS (layanan orientasi siswa) tak lepas dari kabar buruk tentang adanya perlakuan bullying. Seorang siswa baru di SMAN 18 Surabaya akhirnya memilih mogok dari kegiatan LOS yang dimulai Senin (27/7/2015).

Siswa baru yang berinisial MA ini, saat pra LOS Sabtu (25/7/2015) lalu sudah merasakan gerak-gerik tidak baik dari kakak kelasnya. Ia mengungkapkan, pada saat LOS digelar, semua siswa baru diminta membawa foto kartu identitas peserta dengan corat-coret di wajah.

Kemudian hal inilah yang membuatnya tidak nyaman dan memutuskan tidak ikut LOS. “Saya akhirnya tidak ikut LOS hari pertama,” kata dia saat ditemui di kediamannya Jl Kebraon.

Dewan Pendidikan Surabaya yang mendengar kejadian itu segera mendatangi sekolah.

Ketua Dewan Pendidikan Surabaya Martadi menyatakan, pihaknya datang bersama Dinas Pendidikan (Dindik) Surabaya untuk meminta keterangan ke pihak SMAN 18 terkait laporan bully (kekerasan) pada peserta LOS.

“Kejadian ini karena penggunaan kartu identitas peserta dengan foto yang dicoret-coret menjadi pemicu protes orangtua bahwa anaknya menjadi korban bully. Sebaiknya ide kreatif ini tidak dilanjutkan,” pinta Martadi.

Kepala SMAN 18 Surabaya, Suwandi, menyatakan foto pada kartu identitas peserta merupakan ide kreatif untuk kampanye pelajar tanpa make up yang merupakan bagian dari Kurikulum 13 (K13).

“Kami masih tetap menggunakan peraturan pemerintah di Permendikbud No. 55 tahun 2014 tentang masa orientasi peserta didik baru di sekolah, yang tidak menggunakan kekerasan apapun,” ungkapnya ketika dihubungi Surya.

Seperti diketahui, selain adanya Permendikbud 55/2014, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) mengeluarkan Surat Edaran (SE) No 59389/MPK/PD/Tahun 2015 tentang Pencegahan Praktik Perpeloncoan, Pelecehan dan Kekerasan pada Masa Orientasi Peserta Didik Baru di Sekolah.

Sementara itu, Kabid Pendidikan Menengah Kejuruan Dindik Surabaya Sudarminto juga membantah adanya bullying pada pelaksanaan LOS di Surabaya. Dia meyakinkan semua sudah sesuai aturan dalam Permendikbud nomor 55 tahun 2014.

"Kalaupun ada bullying mungkin saat pra LOS. Tapi itu sudah diperbaiki pada saat hari pertama tadi," tutur dia.

Terkait dugaan bullying di SMAN 18 ini, pihaknya telah menerjunkan tim dari unsur pengawas sekolah, Dewan Pendidikan dan Dindik Surabaya untuk memantau langsung di lapangan. "Saya juga sudah turun sendiri dan ternyata tidak kami temukan perlakuan bullying itu di SMAN 18," ujarnya.

Sejak awal, lanjutnya yang juga mantan Kepala SMAN 16 ini, pengawasan LOS di sekolah menjadi perhatian serius. Pihak sekolah telah diminta untuk mengawasi ini secara intensif agar tidak terjadi hal-hal di luar prosedur LOS.

"Namanya panitia ini kan juga anak-anak. Jadi harus diawasi betul. Kadang-kadang kalau tidak diawasi, mereka tidak sadar ternyata kegiatannya menyalahi aturan," tutupnya.

Penulis: Sany Eka Putri
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved