Senin, 13 April 2026

Berita Malang Raya

Pemilik Wayang Krucil 3 Abad Tak Mau Koleksinya Diganti Truk

#MALANG - Setiap Jumat legi, dilakukan ritual memberi sesaji kepada wayang krucil yang diperkirakan usianya 300 tahun.

Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Yuli
sylvianita w
Dalang wayang krucil, Djain (50) sedang mempersiapkan pentasnya di Dusun Wiloso, Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Jumat (24/7/2015). Pentas wayang krucil di dusun itu digelar seminggu usai Lebaran. 

SURYA.co.id | MALANG - Mbah Saniyem (80), kolektor wayang krucil yang tinggal di Dusun Wiloso, Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang sempat mendapat tawaran untuk melepas koleksinya.

Tapi ia tak mau. Apalagi usia wayang krucil warisan kakeknya, almarhum Mentaram sudah berusia raturan tahun.

"Saya tidak mau menjual. Pernah mau ditukar dengan truk," kisah Saniyem kepada SURYA.co.id di rumahnya, Jumat (24/7/2015). Tapi ia tidak menyebut tahun kapan. Yang jelas, sampai sekarang, koleksi itu dipertahankan.

"Saya ingin nanti entah anak saya atau cucu saya harus mempertahankan koleksi wayang krucil ini," ungkap ibu yang memiliki enam anak, 10 cucu dan 13 buyut itu.

Koleksi itu dimasukkan sebuah kotak dan dibuka tiap kali mau pentas. Yang menjadi dalang adalah Djain (50), yang masih ada hubungan keluarga dengannya.

"Kalau anak-anak saya langsung malah tidak ada yang bisa dalang," ujarnya. Dari 72 karakter wayang krucil yang tersisa, ada tokoh Minakjinggo, Kencono Ungu, Damarwulan dll. Setiap Jumat legi, dilakukan ritual memberi sesaji kepada wayang krucil yang diperkirakan usianya 3 abad.

Diperkirakan, koleksi wayang krucil milik Saniyem paling lengkap di Malang Raya atau mungkin di Jatim. Djain sendiri adalah dalang penerus almarhum ayahnya, Karlin.

"Saya sudah generasi dalang ke 10," ungkap Djain yang mengaku sehari-hari tukang cat pada proyek-proyek di perguruan tinggi di Malang.

Untuk penerusnya, ia juga belum tahu siapa. "Anak-anak sekarang lebih tertarik pada HP," cetus Djain disambung tawa.

Namun ia berkeyakinan, pasti ada keturunannya yang nanti akan tertarik suatu hari untuk melestarikannya. "Dulu saya juga mulai suka gamelan-gamelan sejak kelas 4 SD," katanya.

Kemudian hari, ia menggantikan posisi ayahnya. Tak hanya kegiatan desa, pentas-pentas hiburan juga dirambah jika ada yang nanggap. Selain mendapat bayaran, tujuan utamanya adalah agar masyarakat bisa tahu wayang krucil.

"Dibawa kemana saja saya mau, asal dalangnya saya," urainya. Soal durasi pentas, kata Djain, juga fleksibel.

"Apa kata dalang. Bisa setengah jam sampai empat jam, hahaha," jawabnya santai.

Begitu juga cerita yang diangkat juga terserah dalangnya. "Pokoknya ya kisah-kisah di kerajaan," kata dia.

Sebelum mentas, Djain terlihat memilih-milih tokoh wayang krucil. Kemudian diletakkan di sisinya. Bau dupa menyeruak.

Panggung sederhana itu kemudian dikuasainya. Ia mengaku bukan dalang lulusan perguruan tinggi. "Saya dalang biasa," katanya merendah.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved