Pendidikan di Surabaya

Prof Zainudin: Intervensi Pendidikan Budi Pekerti Tak Akan Optimal

Ketua Dewan Pendidikan Jatim Prof Zainudin Maliki mengungkapkan, gerakan penanaman budi pekerti dengan intervensi dari luar tidak akan optimal.

SURYA.co.id | SURABAYA - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kembali mengeluarkan aturan baru untuk menumbuhkan budi pekerti siswa di sekolah.

Seperti upacara bendera setiap Senin, membaca buku sebelum jam pelajaran, menyanyikan lagu kebangsaan dan olahraga bersama.

Ketua Dewan Pendidikan Jatim Prof Zainudin Maliki mengungkapkan, gerakan penanaman budi pekerti dengan intervensi dari luar tidak akan optimal. Karena yang ingin dibangun sesungguhnya adalah karakter. Ini seperti konsep behavioristik Skinner yang sudah sangat lampau.

“Untuk mendorong sisi instrinsik, siswa jangan dipaksa ini paksa itu,” tutur dia, Kamis (23/7/2015).

Dia mengungkap, pengembangan konsep ini semula dilakukan dengan menggunakan burung sebagai bahan riset. Sementara pengembangan manusia, seharusnya bisa menggunakan konsep konstruksionis.

“Misalnya, kalau burung setiap hari dikasih makan jam 7, dia akan gelisah ketika pada jam itu tidak diberi makan. Ini behavioristik,” terangnya.

Berbeda jika menggunakan konsep konstruksionis, siswa akan dipacu berinisiatif dan kreatif. Mereka harus tahu potensinya sejak awal tanpa aturan yang bermacam-macam dan bersifat memaksa. “Metode behavioristik tidak akan cocok. Tapi sayang, konsep konstruksionis juga tidak berlaku di Indonesia,” ungkspnys dia.

Lebih baik siswa ditugasi menulis, lanjut dia, karena mereka otomatis akan sering membaca. Cukup menulis hal-hal yang sederhana.

Di sisi lain, gerakan yang ada dalam Permendikbud Nomor 21 tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti tak satu pun memiliki nilai kebaruan. Kepala Dinas Pendidikan Surabaya Ikhsan mengakui, seluruh program dalam gerakan tersebut sudah berjalan sekitar dua tahun yang lalu di Surabaya. “Di aturan baru ini sudah berjalan di Surabaya. Sehingga kita tidak perlu memulainya dari awal,” ungkapnya.

Mulai dari program membaca, semula hanya dilakukan untuk mengisi waktu sebelum memulai pelajaran di sekolah. Tapi sekarang, tegas Ikhsan, tradisi membaca itu sudah ditingkatkan dengan program tantangan membaca satu juta buku. “Setiap siswa di Surabaya mengikuti tantangan ini. Sehingga targetnya, satu juta buku terbaca dalam setahun ini,” tutur mantak Kepala Bapemas Surabaya ini.

Lalu untuk budaya kebersihan, Surabaya juga telah mengawali dengan program eco school. “Senam juga begitu. Kita bahkan memberi kebebasan siswa untuk menciptakan senam kreasi mereka sendiri. Jadi sebenarnya semua sudah dilakukan,” ujar dia.

Hal ini juga diungkapkan oleh Kepala SMAN 19, Zainuri. Ia mengatakan di sekolahnya program itu bukan lagi hal yang baru melainkan sudah diterapkan sejak lama. “Apalagi Surabaya kan kota literasi yang terkenal dengan budaya membaca, maka kami tidak mempermasalahkan hal itu,” terangnya ketika dihubungi.

Disamping itu, untuk penerapan yang menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia yang masih kurang. Sehingga, menurutnya hal ini wajib juga diterapkan untuk siswa agar lebih mengenal lagu kebangsaannya.

“Untuk mengenal para pahlawan juga. Masa kalah sama Amerika,” tambahnya. Begitu juga dengan Djunaedi, Kepala SMAN 7, yang mengatakan selama dijalankan dengan konsekuensi, itu tidak jadi masalah.

Penulis: Sany Eka Putri
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved