Pengakuan Pembuat Petasan
Hindari Razia, Gito Mengaku Petasan Disembunyikan di Kandang Sapi
Petasan buatannya disimpan di kandang sapi. Polisi sudah menetapkan dua orang ini sebagai tersangka.
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Parmin
SURYA.co.id | MALANG - AKP Wahyu Hidayat, Kasat Reskrim Polres Malang menyatakan meski pembuatan petasan sering memakan korban jiwa, tapi masyarakat tidak jera. Selalu saja ada yang membuatnya, termasuk Gito, warga Desa/Kecamatan Wajak yang dibantu Mualik, tetangganya.
"Karena itu kami bertindak tegas pada pembuat petasan," kata Wahyu Hidayat, Minggu (12/7/2015).
Pengakuan Gito (59), tersangka pembuat petasan kepada wartawan, petasan buatannya memang untuk menyambut Lebaran.
"Tapi buat saya sendiri," aku Gito. Untuk membuatnya, ia tidak perlu belajar khusus. Namun dengan mengamati dari orang lain dan dipelajari secara otodidak.
"Ya saya lihat saja lalu kemudian saya coba membuatnya," kata ayah dua anak dan tiga cucu yang tinggal di Dusun Pakem ini.
Petasan buatannya disimpan di kandang sapi. Polisi sudah menetapkan dua orang ini sebagai tersangka. Menurutnya, untuk mendapatkan bahan petasan, ia mendapatkan dari orang yang jual keliling.
"Saya beli di bakul yang lewat," katanya. Si penjual, katanya memakai motor dan jualan siang hari. Untuk bahan 1 kg dan sumbu, ia perlu mengeluarkan uang Rp 170.000.
Pembuatan petasan dimulai sejak sebelum puasa sampai sebelum ditangkap. Karena alasan dibuat sendiri, kadang sehari menghasilkan 25 sampai 50 butir petasan.
Rencana kemeriahan menjelang Lebaran yaitu malam takbiran, petasan-petasan buatannya akan dibunyikan. Jika seluruh bahan di Gito dipakai, mungkin bisa menghasilkan 4.000 petasan dan itu sangat berbahaya.
Peran Gito di kasus ini sebagai pemilik rumah dan menyiapkan bahan serta dibantu Mualik, tetangganya.