Sabtu, 11 April 2026

Pelecehan Seksual

Pelecehan Seksual Beberapa Siswa SD di Sidoarjo seperti Kasus JIS

Pihak sekolah diduga tahu tapi seperti sengaja membiarkan. Indikasinya, berdasarkan keterangan para siswa, guru-guru melarang murid ke toilet sendiri.

Penulis: M Taufik | Editor: Yuli

SURYA.co.id | SURABAYA - Kasus pelecehan seksual terhadap pelajar di sekolah seperti di Jakarta International School (JIS), juga terjadi di Sidoarjo, Jawa Timur.

Dua dari sejumlah pelajar Sekolah Dasar (SD) yang mengaku menjadi korban sudah melapor ke Polisi sejak beberapa waktu lalu, namun sampai sekarang kasusnya tak kunjung tuntas.

"Korban pertama sudah melapor ke Polda Jatim 1 Mei lalu, kemudian kasusnya dilimpahkan ke Polres Sidoarjo. Korban kedua juga sudah melapor ke Polres Sidoarjo pada 20 Juni lalu. Karena tak kunjung ada perkembangan signifikan dalam penanganannya, kami mendatangi ke Polres Sidoarjo untuk menanyakan perkembangannya," kata M Soleh, pengacara dari orangtua kedua korban, Sabtu (11/7/2015).

Kedatangan Soleh bersama korban dan orangtua korban tidak membuahkan hasil. Sebab, para perwira atau pejabat yang berwenang di Polres Sidoarjo sedang tidak ada di kantor.

"Yang jelas, setahu kami terlapornya belum ditetapkan jadi tersangka," sambung Soleh usai berkunjung ke Mapolres Sidoarjo.

Ia yakin, kekerasan seksual yang terjadi di sekolah sistem Full Day Scool tersebut sebenarnya menimpa banyak siswa. Namun, sejauh ini baru ada dua siswa dan orangtuanya yang berani melapor.

Meski yang dilaporkan hanya satu orang, tapi ia yakin pula bahwa pelakunya bukan hanya satu.

"Berdasar pengakuan anak-anak, pelakunya ada beberapa. Tapi yang mereka kenal namanya hanya satu (berinisial M). Dia pegawai di sekolah tersebut. Pelaku lainnya juga berstatus pegawai di sana," papar Soleh.

Pencabulan di sana diduga sudah berlangsung lama. Para siswa menjadi korban saat sedang di wastafel atau di toilet.

Di sana, mereka digerayangi oleh pelaku. Ironisnya, bukan hanya siswa perempuan, tapi bocah laki-laki di sana juga menjadi korban.

Menurut Soleh, korban laki-laki yang melapor itu sempat divisum dan hasilnya ditemukan ada beberapa lebam. Ini terjadi diduga akibat penganiayaan karena korban berusaha menolak dan melawan saat hendak digerayangi kemaluannya oleh pelaku.

Ia menilai, sekolah tersebut juga sudah mengetahui hal ini tapi seperti sengaja membiarkan. Indikasinya, berdasarkan keterangan para siswa, guru-guru juga mengingatkan anak-anak agar tak sendirian saat ke toilet.

Mereka diminta berdua atau bertiga saat ke toilet agar jika terjadi sesuatu bisa berteriak dan cepat meminta tolong.

Kasus ini dirasa sangat serius dan sudah sangat meresahkan. Karena itu, ia berharap polisi segera mengungkapnya agar tidak ada lagi korban-korban baru, dan tidak terjadi kasus serupa di sekolah tersebut maupun di sekolah lain.

Dikonfirmasi mengenai penanganan kasus ini, Kasat Reskrim Polres Sidoarjo AKP Ayup Diponegoro menjelaskan, pihaknya sudah memintai keterangan pelapor atau korban dan beberapa saksi.

Selain itu penyidik juga sudah melayangkan panggilan terhadap empat orang saksi, yang menurut korban, mengetahui kejadiannya.

Rencananya, empat saksi itu diperiksa hari Senin dan Selasa depan. "Surat panggilannya sudah kami layangkan dan sudah diterima yang bersangkutan. Semoga, mereka bisa datang memenuhi panggilan menjadi saksi," jawab Ayup.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved