Ekspedisi Pondok Pesantren
Ponpes Sabilil Muttaqien Pelopor Transmigrasi
Ketika ilmu yang disampaikan bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, maka mampu menumbuhkan sifat takwa kepada Allah SWT.
Penulis: Doni Prasetyo | Editor: Wahjoe Harjanto
SURYA.CO.ID | MAGETAN - Jejak sejarah Ponpes Sabilil Muttaqien (PSM) dimulai pada 1880. Tempat memperdalam ilmu agama Islam ini didirikan Kiai Hasan Ulama, salah seorang pengikut Pangeran Diponegoro yang melarikan diri ke wilayah Timur menuju Madiun.
Saat baru berdiri, pondok ini diberi nama Pesantren Takeran sebab berada di Desa Takeran, Kecamatan Takeran, Magetan. Lahannya seluas 5 hektare, tetapi bangunan yang berada di area itu tidak terlalu banyak, hanya masjid, pondok sebagai tempat tinggal santri dan rumah kiai selaku pengasuh ponpes.
Namun saat ini fasilitas sudah lengkap. Area itu sekarang dipenuhi bangunan, mulai dari musala, asrama santri, aula, ruang workshop, tempat olahraga, ruang unit usaha, hingga ruang belajar untuk tingkat pendidikan Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.
Pemimpin PSM yang dikenal masyarakat luas pada Tahun 1900 hingga 1943 adalah KH Imam Muttaqien, KH Mohammad Umar bin Hasan Ulama, KH Abu Syukhur Salim, KH Imam Arwahun, dan KH Imam Mursyid Muttaqien bin Imam Muttaqien.
“Nama Pesantren Sabilil Muttaqien baru digunakan setelah berdiri sekitar 43 tahun, saat diasuh KH Imam Mursyid Muttaqien pada 1943,” tutur KH Zuhdi Tafsir, Pengasuh PSM kepada Surya saat ditemui di pesantren beberapa hari lalu.
Perjalanan pondok ini pun penuh tantangan. Di era 1940-an, PSM menjadi saksi terjadinya peristiwa pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Pengalaman yang memilukan, mengingat banyak tokoh agama meninggal dibantai pasukan Muso dan Amir Syarifuddin yang menguasai Madiun saat itu.
Sebagian ulama besar melarikan diri. Tak terkecuali Pimpinan PSM, Kiai Imam Mursyid Muttaqien. Santri dan warga pun sangat berduka karena kehilangan sesepuh PSM yang paling dihormati.
Hingga kini, keberadaan Kiai Imam Mursyid tidak diketahui. Jika memang menjadi korban kebiadaban pasukan Muso, jenazah kiai besar yang paling ditakuti PKI itu belum pernah ditemukan. Kalangan santri sebelum masa Kemerdekaan percaya, Kiai Imam Mursyid kemungkinan masih hidup meski tak jelas ada di mana.
Kiai Imam Mursyid menjadi target operasi PKI sebab ia gigih menolak paham komunis yang bersikap Atheis dan tak adanya peran Tuhan dalam kehidupan manusia. Kiai Imam Mursyid bersama umatnya berupaya keras membendung aksi komunis.
Setelah Kemerdekaan RI 1945, PSM yang lebih kesohor dengan nama Pesantren Takeran itu banyak menerima penghargaan dari pemerintah, terutama terkait program-program yang diajarkan di pesantren.
Salah satunya, program transmigrasi untuk memeratakan penduduk yang menjadi program unggulan Pemerintah Orde Baru era Presiden Soeharto. Sepanjang Tahun 1977 hingga 1980, PSM memberangkatkan rombongan transmigrasi sebanyak 354 kepala keluarga.
“Setiap rombongan dari PSM selalu ada kiai, pamong desa, dan guru,” ujar Kiai Zuhdi Tafsir.
Atas inisiatif itu, PSM menerima penghargaan Kalpataru dari Presiden Soeharto pada 1986. Program transmigrasi PSM yang sangat dikenal populer dengan sebutan Jebol Pesantren.
“Jebol Pesantren diikuti alumni santri, pengasuh, guru, dan pamong di lingkungan PSM. Program itu masih berlanjut,” kata Kiai Zuhdi.
Dibeberkan Kiai Zuhdi, santri yang mondok di PSM dikategorikan dalam empat kelompok belajar, Santri Kalong, Mukim, Ikatan Warga Pelajar (IWP) dan Pemuda PSM.
IWP merujuk pada santri yang menuntut ilmu di Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah, sedangkan Pemuda PSM adalah santri warga di sekitar lokasi PSM.
PSM mempunyai trilogi yang masih diterapkan hingga sekarang yaitu Ilmu, Amal, dan Taqwa. Ketiga ajaran itu berarti setiap orang yang beriman, selama hidup di dunia dituntut untuk terus mencari ilmu sebab dengan ilmu kehidupan umat Islam akan dijamin Allah sejahtera di dunia dan akhirat.
“Setelah memperoleh ilmu, supaya mengamalkan dan mengajarkan ilmu itu kepada orang lain,” jelas Kiai Zuhdi Tafsir.
Ketika ilmu yang disampaikan bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, maka mampu menumbuhkan sifat takwa kepada Allah SWT.
Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok.
LIKE Facebook Page www.facebook.com/SURYAonline
FOLLOW www.twitter.com/portalSURYA
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/doni6_20150710_211551.jpg)