Ramadan 2015

Mahasiswa Filipina Belajar Islam di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya

Tercatat ada 11 mahasiswa yang kini belajar di Unusa. Mereka juga belajar ke-NU-an. Enam di antaranya mahasiswa dan sisanya mahasiswi.

Mahasiswa Filipina Belajar Islam di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya
SURYA/HABIBUR ROHMAN
Para mahasiswi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) saat mengikuti DUTA KAMPUS - Aksi peserta pada pemilihan Duta Kampus di Royal Plaza Surabaya, Jumat (1/5/2015). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sebagai kampus yang mengedepankan jati diri Islam, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menjadi tempat referensi internasional mempelajari nilai-nilai keislaman yang universal.

Terutama soal bagaimana membangun kerukunan beragama, antarumat beragama, dan menghargai sesama.

Ini pula yang saat ini didalami belasan mahasiswa asal Filipina. Tidak saja mengagumi nilai keberagaman yang ada di Unusa, mereka juga mengagumi kesenian-kesenian kreatif islam yang juga diajarkan di Unusa.

"Islam di sini moderat. Kami juga suka sekali itu seni melantunkan salawat nabi dengan alat mudik tabuh. Unik dan indah. Kami suka," kata Abdul Aziz Basag, mahasiswa asal Filipina.

Kebanyakan, para mahasiwa itu berasal dari Kepulauan Mindanau, Filipina. Tercatat ada 11 mahasiswa yang kini belajar di Unusa. Mereka juga belajar ke-NU-an. Enam di antaranya mahasiswa dan sisanya mahasiswi.

Untuk mendalami ilmu agama juga, mereka juga dititipkan ke Ponpes dekat kampus. Para mahasiswa itu belajar dengan program beasiswa.
Mereka tersebar di FKIP, FKK, dan FE. Termasuk belajar ilmu Keperawatan dan Kebidanan.

Sementara itu, Nur Asma Amalia, salah satu mahasiswi semesrter 2 D3 Kebidanan Unusa merasa nyaman dengan pembelajaran keislaman di Unusa.

"Kami ikut kegiatan mahasiswa banjari. Dengan rebana, kita bisa bersalawat bersama," kata Amalia.

Amalia adalah mahasiswa yang masa kecilnya dihabiskan di Ambon. Kerusuhan Ambon adalah pengalaman hidup yang tak pernah bisa dilupakannya.

Saat kerusuhan terjadi di seluruh Ambon, Amalia bersama keluarga memilih pulang ke Surabaya. Maklum, Amalia orang tuanya kelahiran Ampel, Surabaya.

"Saya masih ingat, Pak RT meminta kami semua lepas jilbab. Di dalam mobil, kami semua ketakutan sebelum akhirnya bisa sampai Surabaya," kenang Amalia.

Mahasiswi ini pun kini intens mengikuti kajian dan diskusi nilai keislaman di Unusa. Nilai keberagaman dan kerukunan antarumat beragama juga didalami di Unusa.

Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved