Rabu, 20 Mei 2026

Berita Malang Raya

Menyelamatkan Sisa-sia Kejayaan Pabrik Gula di Malang

Satu lokomotif akan ditaruh di Museum Angkut dan satu lagi ditaruh di Pegunungan Bromo, kemudian satu lagi akan dibuat rumah makan.

Tayang:
Penulis: Adrianus Adhi | Editor: Wahjoe Harjanto
surya/hayu yudha prabowo
SELAMATKAN LORI - Sejumlah pekerja mengecat ulang lokomotif lori (kereta pengangkut tebu) di Jalan Kyai Ageng Gribig Kota Malang, Rabu (23/6/2015). 

SURYA.CO.ID | MALANG - Dua lokomotif kereta bermesin uap buatan Tahun 1823 terparkir rapi di halaman rumah Abdul Manaf Jl Ki Ageng Gribig, Kota Malang, Selasa (23/6/2015).

Kondisi kereta ini sangat memprihatinkan. Catnya sudah usang dan disana-sini terlihat sudah berkarat. Padahal benda ini menjadi saksi bisu kejayaan pabrik gula di Malang.

Selasa (23/6/2015) sore, empat pekerja terlihat sibuk membetulkan satu lokomotif kuno. Mereka mengelas beberapa bagian kereta yang telah berlubang karena karat, membetulkan besi kereta yang telah bengkok, serta mengecat agar tampilan lokomotif terlihat baru.

Di tengah kesibukan pekerja ini, Abdul Manaf terlihat mengamati satu lokomotif kuno bermesin uap. Lokomotif ini berada di depan lokomotif diesel yang sedang diperbaiki para pekerja tadi. Kondisi lokomotif ini mirip dengan lokomotif yang sedang diperbaiki tadi. Sudah rusak.

Kepada Surya, Manaf menerangkan, lokomotif berwarna hitam itu didapat dari pabrik gula di Kabupaten Malang. Total ada tiga lokomotif yang dibeli pada tiga bulan lalu. Dua lokomotif bermesin uap dan satu bermesin diesel. Lokomotif bermesin diesel kini sedang diperbaiki.

Lokomotif yang dibeli ini dibuat pada abad ke 19, sekitar Tahun 1800-an. Hal itu diketahui lewat plakat mesin lokomotif yang masih terpasang di sisi kiri depan kereta, tak jauh dari pintu masuk kemudi kereta, Lindeteves Stokvis Semarang.

Dibawah tulisan itu, ada informasi anak cabang perusahaan baja terbesar di Hindia Belanda, yaitu Soerabaja, Medan, Batavia, Makassar, Tegal, Bandoeng, Djokja.

Ada pula nama Amsterdam dan New York di plakat itu. Maksudnya juga untuk menjelaskan bahwa Lindeteves Stokvis yang berkedudukan di Semarang, memiliki anak cabang di dua kota tersebut.

Di bagian kemudi, terpasang plakat baja dengan informasi yang lain lagi. ‘Henschel & Sonn. 18 Mph, Cassel 1823, 12 ATM’. Plakat berukuran 15x 10 centimeter ini menjelaskan informasi terkait asal mesin lokomotif tadi.

Henschel & Sonn merupakan perusahaan transportasi asal Jerman yang didirikan Georg Christian Carl Henschel dan anaknya, Carl Anton Henschel. Perusahaan ini tidak hanya membuat mesin-mesin transportasi, tetapi juga senjata.

Dalam plakat Henschel & Sonn ini pula diketahui bahwa kereta ini dibuat pada Tahun 1823. Walau demikian, kereta ini terlambat tiba di Hindia Belanda lantaran rel kereta api baru dibangun Tahun 1867.

Di Malang, rel kereta api baru ada pada Tahun 1888. Saat itu rel kereta di Malang baru menghubungkan Surabaya-Sidoarjo. Pembangunan rel dilanjutkan lagi sampai Pasuruan pada Tahun 1899.

Dari catatan sejarah Indonesia, kereta sudah menjadi sarana transportasi favorit warga Hindia Belanda pada tahun-tahun itu. Tidak hanya warga, pabrik-pabrik gula di Hindia Belanda juga kepincut memiliki kereta sendiri.

Tak diketahui, berapa biaya yang harus perusahaan bayar untuk mendatangkan lokomotif dan kereta untuk mengangkut gula atau tebu. Meski demikian, hingar bingar kejayaan pabrik gula di Hindia Belanda kemudian redup setelah kemerdekaan.

Saat itu Soekarno meminta agar seluruh perusahaan milik Belanda agar dinasionalisasikan, termasuk pabrik gula. Sejak itu kisah lori dan lokomotif milik pabrik gula berakhir.

Pengakuan Manaf, lokomotif-lokomotif kuno sebagian ada yang masih disimpan warga. Ia berhasil membeli tiga diantaranya. “Kalau harga pembelian rahasia,” ungkap dosen Fakultas Ekonomi Universitas Merdeka Malang itu.

Meski demikian, Bapak dua anak ini memberi kisaran harga tiga lokomotif ini mencapai ratusan juta rupiah. Bisa jadi pula, tiga lokomotif ini tak ternilai harganya mengingat sejarah yang ada dalam kereta sangat banyak.

“Kami menyelematkan kereta ini karena pemiliknya akan mengkilokan seluruh besi kereta,” aku Abdul Manaf, pemilik kereta kuno ini kepada Surya.

Mengkilokan merupakan istilah Manaf untuk menjelaskan keinginan pemilik lokomotif sebelum dibeli. Kabarnya, pemilik lokomotif ini akan memotong-motong besi dan baja yang menjadi rangka lokomotif bersejarah itu. “Dari pada hilang begitu saja, kami pun membeli dan memperbaikinya di sini,” imbuhnya.

Meski demikian, Manaf sempat dibuat bingung usai berhasil membeli lokomotif buatan Jerman ini. Ia harus mendatangkan crane dan meminta pengawalan polisi untuk membawa lokomotif yang tiap unitnya memiliki berat 17,5 ton.

Tak hanya itu, ia pun sempat dibuat takjub lantaran ada satu lokomotif yang tak bisa diangkat. “Ya, ini kejadian nyata. Sebelum diselametin, lokomotif diesel ini tak bisa diangkat crane,” tutur dia sambil menunjuk lokomotif yang tengah diperbaiki.

Setelah lokomotif ada di halaman rumahnya, Manaf pun tersenyum. Ia puas sudah menyelamatkan aset sejarah di Malang. Ia sudah memiliki rencana untuk memindah tiga lokomotif ini setelah diperbaiki.

Kata dia, satu lokomotif akan ditaruh di Museum Angkut dan satu lagi ditaruh di Pegunungan Bromo, kemudian satu lagi akan dibuat rumah makan.

“Lokomotif ini adalah satu tanda bahwa di Malang ini banyak tersimpan benda bersejarah. Sekarang tinggal kita, apakah ingin merawatnya atau tidak,” kata pria yang juga senang dengan mobil jeep dan menjadi kolektor barang antik ini.

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok.
LIKE Facebook Page www.facebook.com/SURYAonline
FOLLOW www.twitter.com/portalSURYA

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved