Breaking News:

Ajeng Go International Berkat Busana Motif Jepang

Lewat hobinya ini Ajeng meraup Rp 12 juta/bulan. Karyanya selain digemari masyarakat di seluruh pelosok Indonesia, juga sudah go international.

Penulis: Achmad Pramudito | Editor: Achmad Pramudito
surya/pramudito
Ajeng Pong 

SURYA.co.id | SURABAYA - Hobi yang menghasilkan pasti sangat menyenangkan. Ituah yang diraih Rahajeng Nastya Sekarhayu.

Berawal dari ilmu Bahasa Jepang yang dipelajari di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), perempuan yang akrab disapa Ajeng itu jadi menggemari dunia fashion, terutama yang berkait dengan busana kejepangan. Berkat ketrampilannya menggambar busana-busana, sudah ratusan yukata dan kimono dia hasilkan dan laris manis.

Sulung dari dua bersaudara itu belakangan kewalahan menerima pesanan busana jenis yukata maupun kimono. Maka mahasiswa S2 Jurusan Bahasa & Sastra Jepang Unesa itu lalu menggandeng enam penjahit untuk membantunya menyelesaikan pekerjaan sehari-hari.

Hasil jahitannya itu dipajang di butik yang diberi nama Nippon Pong di kampung halamannya Baureno, Bojonegoro. Setiap hari butik yang dirintis sejak Februari 2012 itu dijaga dua orang siswanya.

“Saya bersyukur, hobi ini bisa berkembang. Kegiatan yang saya lakukan tidak hanya membuat saya bisa mandiri, tapi juga bisa membuka lapangan pekerjaan di kampung,” kata Ajeng yang pada bulan Maret 2015 baru kembali dari Tokyo untuk menjalani pertukaran pelajar selama enam bulan.

Perempuan yang kini lebih dikenal dengan sapaan Ajeng Pong ini menambahkan, setelah diunggah ke jejaring sosial media, karyanya itu ternyata mendapat respons luar biasa dari penggemar fashion bertema Jepang. Di bulan Mei 2014, Ajeng bahkan sempat diundang oleh komunitas penggemar budaya Jepang di Singapura untuk memajang hasil kreasinya itu.

Selain Singapura, busana-busana karya Ajeng ini sudah dikonsumsi secara rutin oleh warga Malaysia. “Kalau konsumen lokal, sudah rata dari seluruh Indonesia,” katanya.

Dari ketrampilannya ini, Ajeng mengaku mengantongi Rp 12 juta/bulan. “Kalau lagi sepi biasanya hanya dapat Rp 5-6 juta/bulan,” bebernya.

Kreativitas Ajeng pun berkembang. Tak hanya membuat busana bertema Jepang dari bahan kain standar yang diimpor dari negara asalnya. Ajeng pun lalu mengombinasikan beragam jenis kain menjadi busana-busana menarik.

Selain jenis kain katun, Ajeng juga memanfaatkan silk dan rayon. “Rayon itu meski agak kasar, tapi kalau dipakai bagus,” ungkapnya.

Hasil kreativitas Ajeng lainnya yaitu memanfaatkan kain kebaya sebagai kimono. Dan sebaliknya, kain untuk kimono dikreasi menjadi kebaya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved