Pemberantasan Narkoba

Pelajar SMA di Surabaya Hisap Sabu, Menangis Saat Ditangkap Polisi

#SURABAYA - “Dia takut dimarahi orangtuanya. Dia mengaku tidak pernah aneh-aneh di rumah,” kata Kapolsek Pabean Cantikan, Kompol Ketut Madia.

Penulis: Zainuddin | Editor: Yuli
helath/kompas.com
Ilustrasi Sabu-sabu 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sebagaimana remaja lainnya, Adriawan (18) selalu mengatakan kepada orangtuanya bahwa dia tidak pernah berbuat yang aneh-aneh.

Makanya dia langsung menangis kepada polisi yang menangkapnya di rumah kosong di Jalan Jatisrono, Surabaya beberapa waktu lalu.

Warga Jalan Tanah Merah ini sedang menikmati sabu bersama Arifin (23). Dua orang ini tidak menyadari bila ada mata yang memantaunya.

Mereka tidak bisa berkutik saat petugas menangkapnya. Petugas menyita satu poket sabu seberat 0,38 gram beserta alat hisapnya dari tangan tersangka.

Adriawan langsung meronta minta ampun kepada petugas. Dia minta petugas tidak membawanya ke kantor polisi atau memberitahu orang tuanya.

Tapi petugas tetap menggelendang dua orang ini ke Mapolsek Pabean Cantikan.

“Dia takut dimarahi orangtuanya. Dia mengaku tidak pernah aneh-aneh di rumah,” kata Kapolsek Pabean Cantikan, Kompol Ketut Madia, Jumat (12/6/2015).

Ketut menambahkan rumah kosong itu memang sering digunakan warga untuk main judi, menikmati sabu atau ganja, dan sebagainya.

Makanya saat mendengar ada pesta sabu di rumah kosong itu, anggotanya langsung menuju lokasi. Dua tersangka ini ditangkap saat menikmati sabu.

Adriawan sedang mengenakan seragam sekolah saat dikeler ke Mapolsek. Saat itu memang baru pulang sekolah. Adriawan mengaku baru sekali membeli sabu dari seorang yang dikenal dari temannya.

Satu poket sabu dibeli seharga Rp 250.000. Agar lebih hemat, Adriawan memakainya sedikit-sedikit.

“Sebelumnya sama teman saya. Kalau sama Arifin, baru kali ini,” kata Adriawan.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved