Sabtu, 18 April 2026

Eksklusif Perang Tarif Hotel

Persaingan Ketat, Tingkat Kunjungan Menurun, Hotel Ini Akui Alami Kerugian

Redupnya bisnis perhotelan di Surabaya tidak cuma disebabkan menjamurnya hotel-hotel baru.

surya/habibur rohman
Hotel Santika dan Suites Hotel yang berada di kawasan Jalan Gubeng Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Persaingan ketat dirasakan pula oleh Hotel Inna Simpang.

Dalam triwulan pertama ini, hotel bintang empat di kawasan Jl Gubernur Suryo, Surabaya, ini mencatat kerugian signifikan.

Maryanto, General Manager Inna Simpang, mengungkapkan, kerugian disebabkan menurunnya tingkat kunjungan.

Para pelaku bisnis yang merupakan segmen utama hotel, banyak memilih menginap di hotel berbintang lain yang berani membanting harga.

“Selama tiga bulan itu, tingkat okupansi sekitar 45 sampai 55 persen. Padahal, untuk bisa BEP (break even point atau balik modal), seharusnya okupansi itu sekitar 60 persen. Kalau okupansi di bawah 60 persen, berarti kerugian bagi kami,” kata Maryanto tanpa bersedia membeberkan nilai kerugian sepanjang triwulan pertama 2015, Selasa (5/5/2015).

Menurut Maryanto, saat ini terjadi over supply atau penawaran yang jauh melebihi permintaan.

Dengan kata lain, jumlah kamar hotel yang ditawarkan, jauh lebih banyak daripada jumlah tamu yang datang dan menginap di Surabaya.

Dengan kondisi yang demikian, Maryanto memaklumi apabila kemudian hotel-hotel di Surabaya terjebak pada perang tarif.

Strategi yang sama juga pernah dilakukan hotel yang memiliki 118 unit kamar itu.

Kamar yang semula dibanderol Rp 1 juta semalam, diturunkan sampai menyentuh batas minimal, Rp 550.000 per malam.

"Itu paling murah yang bisa kami tawarkan. Dengan tarif segitu, kami masih bisa menambahkan paket breakfast (sarapan) yang bermutu buat tamu. Kan tidak mungkin kami mempertaruhkan reputasi hotel yang tahun ini masuk usia 35 dengan menjatuhkan standar layanan,” urainya.

Redupnya bisnis perhotelan di Surabaya tidak cuma disebabkan menjamurnya hotel-hotel baru.

Maryanto menilai, Pemkot Surabaya belum bisa membuat produk atau agenda wisata yang bisa membuat tamu-tamu dari luar kota datang ke Surabaya dan menginap selama lebih dari satu hari.

Dia mencontohkan, agenda Pawai Bunga yang berlangsung belum lama ini.

Walau menarik, namun karena hanya berlangsung sehari, agenda itu hanya berhasil mengundang antusiasme warga Surabaya. Sementara wisatawan dari luar kota, tidak sempat ikut terlibat serta menyaksikan.

”Promosi agenda wisata juga harus diperkuat untuk meningkatkan demand hotel. Selama ini, fungsi promosi itu yang saya kira masih lemah pelaksanaannya,” lanjut Maryanto. (David Yohannes/Eben Haezer Panca/Benni Indo)

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok
LIKE Facebook Surya - http://facebook.com/SURYAonline
FOLLOW Twitter Surya - http://twitter.com/portalSURYA


Sumber: Surya Cetak
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved