Berita Malang Raya

Tuntut Kesetaraan Pendidikan, HMI Bakar Ban di Malang

"Pendidikan hari ini kehilangan arah dan pola, UN (ujian nasional) menggunakan sistem online bagaimana dengan daerah yang lain seperti Lombok, Papua,"

Tuntut Kesetaraan Pendidikan, HMI Bakar Ban di  Malang
surya/Sulvi Sofiana
Aksi demo HMI dengan berorasi dan aksi demo GMNI yang memunculkan karekter anak putus sekolah di jalan veteran Kota Malang. 

SURYA.co.id |MALANG - Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) komisariat Madani Jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Nasional (ITN) melakukan demo dengan membakar ban di perempatan jalan Veteran sejak pukul 09.30, Sabtu (2/5).

Dengan 25 peserta demo, mereka berorasi dan melakukan treatical menuntut kesetaraan pendidikan diberbagai wilayah di Indonesia. Hal ini dipaparkan koordinator lapangan, Hamzan Wadi (20) mahasiswa ITN jurusan teknik sipil dan sejumlah orator secara bergantian.

"Pendidikan hari ini kehilangan arah dan pola, UN (ujian nasional) menggunakan sistem online bagaimana dengan daerah yang lain seperti Lombok, Papua," tutur Hamzan.

Ia memaparkan dari data UNESCO disetiap negara dalam satu menit ada 4 anak yang terpaksa putus sekolah karena tidak sanggup membiayai pendidikan sekolahnya.

"Pendidikan bukan batu akik yang bisa diperjualbelikan, untuk itu di hari pendidikan ini kami mau mengingatkan masyarakat untuk menuntut hak pendidikan sesuai UUD 1945," tambahnya.

Sedangkan tak jauh dari letak HMI berorasi. Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Malang menggelar demo terkait hal yang sama. Sebanyak 25 peserta demo GMNI menempati gernang Dinas Pendidikan Kota Malang.

Koordinator lapangan GMNI, Onesh Jr (24), mahasiswa jurusan Peternakan Universitas Kanjuruan Malang menjelaskan bahwa tenaga pendidik tidak sesuai standar sehingga membutuhkan pengawasan masyarakat.

"Mengacu janji kampanye jokowi bahwa akan berusaha merumuskan undang2 wajib belajar 12 tahun bebas biaya. Kami harus mengingatkan masyarakat agar melakukan implementasi janji-janji saat kampanye," jelasnya.

Dalam demo ini GMNI menampilkan sejumlah pendemo yang didandani bertelanjang dada sebagai perwujudan anak putus sekolah yang tertindas.

Demo ini diamankan sekitar 20 polisi dan petugas Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) untuk mengurai kemacetan di peremparan Veteran akibat demo ini.

Seorang pengguna motor bahkan sempat memaki pendemo karena kemacetan yang ditimbulkan.

100 polisi dari polsek Lowokwaru dan Polres Kota Malang disiagakan dalam demo ini. Hal ini diungkapkan Kabagop Polres Kota Malang, kompol Sunardi Riono.

" Sekitar 50 pendemo yang berdemo di dua tempat yang berbeda, tapi pukul 10.45 WIB mereka bergabung menjadi satu di depan Dinas Pendidikan Kota Malang," tuturnya.

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok
LIKE Facebook Surya - http://facebook.com/SURYAonline
FOLLOW Twitter Surya - http://twitter.com/portalSURYA

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Yoni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved