Selasa, 14 April 2026

Konsumsi Air Turun, PDAM Jombang Kelimpungan

“Bukan soal penurunan jumlah pelanggan, namun ini lebih disebabkan air yang dikonsumsi lebih dihemat. Padahal tahun lalu, tingkat konsumsi air mencapa

Penulis: Sutono | Editor: Yoni
antara/iggoy el fitra
Ilustrasi instalasi pengolahan air PDAM 

SURYA.co.id| JOMBANG - Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jombang kelimpungan.

Sebab, tingkat konsumsi air pelanggan rendah, dan belum mampu mengganti biaya produksi yang dikeluarkan perusahaan daerah tersebut.

Setiap bulan, pelanggan hanya mampu menyerap air produksi PDAM dengan volume rata-rata 15 meter kubik atau setara 15.000 liter air.

Padahal idealnya, untuk memenuhi biaya produksi PDAM harus bisa menjual air sebanyak 20 meter kubik.

Dirut PDAM Jombang Aries Yuswantoro tak menampik bila kondisi semacam itu menganggu pemasukan perusahaan. Namun dia beralasan, PDAM sangat dilematis dengan semakin gencarnya kampanye lingkungan hidup berupa gerakan penghematan air.

“Bukan soal penurunan jumlah pelanggan, namun ini lebih disebabkan air yang dikonsumsi lebih dihemat. Padahal tahun lalu, tingkat konsumsi air mencapai 18 meter kubik,” katanya.

Sedangkan untuk menaikkan tarif dasar air kepada pelanggan, jelas bukan merupakan pilihan populer. Selain berpotensi menimbulkan polemik, proses penetapan tarif baru juga harus dibahas bersama legislatif.

“Ini perusahaan plat merah, ada aturan yang menjadi dasar penentuan tarif. Kalau mau naik, otomatis harus diproses bersama legislatif,” lanjut Aries.

Saat ini, tarif yang diberlakukan PDAM sebesar Rp 1.600 per meter kubik. Pihaknya mengklaim, tarif tersebut sudah paling murah bila dibandingkan dengan daerah lain sekitar Kabupaten Jombang.

Aries menguraikan, saat ini sudah ada 17.381 meteran air yang dipasang di rumah pelanggan. Jumlah itu tersebar di tujuh kecamatan yang menjadi wilayah konsumsi air PDAM, diantaranya Jombang, Ploso, Kabuh, Mojoagung, Bareng, Diwek, dan Kudu.

Meski jumlah pelanggan mengalami kenaikan bila dibanding bulan sebelumnya, kata Aries, tetap saja tidak mampu menutup biaya produksi 402.115 meter kubik air per bulan.

Parahnya lagi, selain tingkat konsumsi air mengalami penurunan, persentase kebocoran air PDAM mencapai 24 persen dari seluruh kapasitas air yang diproduksi.

Akibatnya banyak air yang tidak terjual, dan tak bisa membantu mengurangi angka defisit biaya produksi yang dikeluarkan PDAM. Kebocoran air itu, kata Aries disebabkan banyak faktor.

“Bisa terjadi saat petugas melakukan perbaikan pipa, juga bisa bocor karena meteran yang rusak,” katanya. Aries mengklaim persentase kebocoran itu mengalami penurunan dari sebelumnya.

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok
LIKE Facebook Surya - http://facebook.com/SURYAonline
FOLLOW Twitter Surya - http://twitter.com/portalSURYA

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved