Rabu, 29 April 2026

Gemstone Festival di Plaza Araya

Di Singapura, Batu Akik Bacan kalah Tenar Dibanding Red Borneo

“Batu ini berasal dari Sungai Martapura. Penambang harus menyelam sejauh enam meter."

Tayang:
Penulis: Adrianus Adhi | Editor: Parmin
youtube
Red Borneo 

SURYA.CO.ID | MALANG – Booming batu akik di Kota Malang kini dilirik para pedagang batu akik dari luar Pulau Jawa. Mereka menawarkan bebatuan akik dari luar Pulau Jawa yang bentuknya tak kalah menarik dengan di Jawa.

Salah satunya adalah toko Banua Gem Stone. Toko batu akik ini datang jauh-jauh dari Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan ke Kota Malang hanya untuk mengenalkan bebatuan Kalimantan. Salah satu produk yang mereka banggakan adalah batu Red Borneo.

BACA JUGA » Omset Pameran Akik Mencapai Rp 650 Juta

“Batu ini berasal dari Sungai Martapura. Penambang harus menyelam sejauh enam meter terlebih dulu sebelum menemukan batu ini,” tutur Noor Lathifa Hamrin (24), penjaga toko ditemui dalam acara Gemstone Festival di Plaza Araya, Kamis (28/4/2015) sore.

Ia menjelaskan batu tersebut memiliki ciri khas warna merah muda atau pink. Warna tersebut didapat dari proses sedimentasi batu dalam sungai selama berabad-abad.

“Warna sungai Martapura itu kemerah-merahan, karena itu warna batunya pun seperti ini,” lanjut dara berusia 24 tahun ini.

Setelah diproses bentuk bebatuan ini mirip giok karena tembus pandang. Bedanya, batu ini berwarna merah muda. Kata Noor, kualitas batu ini jauh lebih baik daripada batu bacan.
Ia bahkan menyebut, batu Red Borneo juga pernah memenangkan kontes batu di Singapura.

“Semakin merah muda warna batu ini, harganya semakin mahal. Untuk batu ini, harganya Rp 3 juta,” kata Noor sambil menunjukkan batu dengan warna merah muda di seluruh sisi.

Tak hanya batu Red Borneo, batu Giok Aceh yang kabar penemuannya menggemparkan Indonesia juga turut dipamerkan dalam festival ini. Batu giok tersebut dibawa Gemstone Malang Community (GMC).

“Batu ini kami jual Rp 4 juta,” kata Anggara, juru bicara komunitas tersebut.

Batu Giok Aceh seharga Rp 4 juta tersebut memiliki berat lebih dari 3 Kilogram.

Batu ini, lanjut Anggara, mereka pesan khusus dari Aceh, lalu mereka terbangkan ke Kota Malang untuk memberi wawasan baru tentang Giok Aceh. Hasilnya, kualitas batu Giok Aceh ternyata jauh lebih baik dari Giok di daerah lain.

“Terangnya lebih menyala,” tambah Anggara.

Walaupun menampilkan pameran dari bebatuan luar kota, pameran batu akik di hall Plaza Araya tetap didominasi bebatuan local dari Pulau Jawa. Bebatuan tersebut diperkenalkan oleh 14 pedagang hingga Sabtu (2/5/2015).

BACA JUGA » Transaksi Batu Akik di Situs Penjualan Online Capai Rp 8 Miliar Per Bulan

BACA JUGA: Pamor Batu Pirus Hitam dari Situbondo Ikut Naik Berkat Demam Akik

akik

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved