Menyelamatkan Kartini dari Kematian

saat proses persalinan berlangsung, satu kaki perempuan ada di dunia, satu kaki lainnya ada di akhirat. Kematian karena melahirkan masih jadi ancaman

Menyelamatkan Kartini dari Kematian
popsugar
menanti kelahiran 

Oleh : Reza Arta Bagaskoro Nugroho
Dokter di Lamongan/Alumnus S2 Ilmu Kedokteran Dasar Universitas Airlangga Surabaya

21 April 1879, satu abad silam, putri Bupati Jepara dilahirkan. Perempuan istimewa, Kartini, pelopor emansipasi perempuan Indonesia. Penindasan perempuan mendorong Kartini melakukan perubahan. Perlahan kaum perempuan negeri ini menikmati emansipasi.

 

Perjuangan belum berakhir, masih banyak tantangan dihadapi. Salah satunya tingginya angka kematian ibu (AKI). Kartini  meninggal dunia di usia muda, 25 tahun, tak lama setelah melahirkan. Sebuah taruhan nyawa dalam meneruskan generasi. Bagaikan ungkapan, ketika perempuan sedang melahirkan, ia menempatkan satu kakinya di dunia, dan satu kakinya lagi di akhirat.

 

Satu abad sepeninggal Kartini, Indonesia masih tenggelam dalam duka tingginya angka kematian ibu melahirkan. Sedikitnya 228 kematian per 100 ribu kelahiran di 2007. Bahkan pernah menyentuh ranking tertinggi ASEAN. Salah satu cara efektif menurunkan AKI adalah partisipasi ibu hamil dalam memeriksakan kehamilan ke tenaga kesehatan.

 

Pemeriksaan kehamilan dapat dibantu dengan ultrasonografi (USG), teknik pencitraan gelombang suara untuk mengetahui kondisi bayi, detak jantung, lokasi plasenta, kekeruhan ketuban, dan tali pusat janin. Lewat USG dapat dievaluasi perkembangan bayi.

 

Selama ini, ibu hamil enggan untuk USG karena beranggapan mahal dan tempat pemeriksaanya jauh. Hal ini menginspirasi tim dokter melakukan USG Plus di beberapa kecamatan di Lamongan bekerja sama dengan bidan desa. Prinsip program USG Plus adalah keterjangkauan, mulai dari aspek biaya, jarak dan jumlah ibu hamil yang diperiksa.

 

Selama Januari hingga Maret 2015, program  USG Plus yang digawangi Dokter Reza Arta Bagaskoro dan Dokter Ferry Ferdiansyah sudah mendatangi beberapa kecamatan,  antara lain Karanggeneng, Tikung, Kembangbahu, Mantup, dan Kedungpring. Antusias ibu hamil di kecamatan bagus, rata-rata kunjungan 50 ibu hamil setiap kegiatan. 

 

Tak sekadar USG, tetapi USG Plus. Dokter tak hanya memberikan informasi kesehatan janin tetapi juga tip menjalani kehamilan dengan sehat. Metode komunikasi langsung saat pemeriksaan terbukti efektif dalam penyampaian informasi. USG Plus juga berkolaborasi dengan bidan desa untuk pemberiaan vitamin, kalsium, dan asam folat. Kedekatan interpersonal USG Plus menjanjikan peningkatkan partisipasi ibu hamil  dalam melakukan pemeriksaan kehamilan.

 

Semoga target penurunan angka kematian ibu di Lamongan dengan USG Plus dapat tercapai. Kartini, perjuanganmu akan selalu menginspirasi para ibu Indonesia!

 


 

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved