Senin, 18 Mei 2026

Guru Bangsa Tjokroaminoto

Kebangkitan Nasional itu Sebetulnya Sarikat Islam

Sosok Tjokroaminoto selama ini tak pernah terpapar secara luas. Padahal perannya dalam pergerakan di masa penjajahan sangat berarti sebelum Soekarno.

Tayang:
Penulis: Achmad Pramudito | Editor: Achmad Pramudito
surya/pramudito
Garin Nugroho bersama Bambang DH hadir dalam diskusi film Tjokroaminoto yang diadakan Paguyuban Cak Ning 

SURYA.co.id | SURABAYA - Surabaya menyimpan banyak fakta sejarah yang selama ini belum terungkap. Salah satunya adalah peran aktif HOS Tjokroaminoto dalam melahirkan pejuang-pejuang besar negeri ini, termasuk sang Proklamator, Soekarno.

Menurut Garin Nugroho. Surabaya terbukti pusat jadi lahirnya tokoh-tokoh politik Indonesia. “Karena itu, seharusnya Kebangkitan Nasional itu pencetusnya adalah Sarikat Islam, dan bukan Boedi Oetomo,” tegas sutradara film Guru Bangsa: Tjokroaminoto ini dalam acara diskusi di Balai Pemuda, Minggu (19/4) petang.

Alasannya, Boedi Oetomo hanya menyentuh elit terbatas di kalangan atas. Sedang semangat Sarikat Islam merata hingga pelosok Tanah Air. 

Dalam diskusi itu, Garin didampingi Oyot, aktor asal Surabaya yang memerankan tokoh Sosro Kardono. Selain itu, ada pula Bambang DH, mantan Wali Kota Surabaya.

Menurut Garin, Surabaya juga merupakan pusat industri budaya dan pariwisata nomor satu Indonesia. “Contohnya, seni musik Stambul dan keroncong itu berkembang dari Surabaya,” tandasnya.

Bertolak dari fenomena yang belum banyak orang mengungkapkan inilah Garin lalu menggarap film Tjokroaminoto. “Saya tak suka menggarap tokoh popular jadi sebuah film. Karena itu pasti sudah ada yang lain yang mengerjakannya,” cetus lulusan Universitas Indonesia Jurusan Fakultas Hukum ini.

Garin lalu tertarik untuk mengangkat kisah Tjokroaminoto yang dianggap punya karakter kuat dan perjalanan hidup yang menarik yang tak pernah diketahui masyarakat. “Warga Surabaya harus bangga punya Tjokroaminoto yang selama ini hanya dikenal sebagai nama jalan. Selain pengaruh politiknya sangat kuat, dia juga penari Hanoman yang handal lo,” urainya.

Diakui Garin tak mudah menyelesaikan Guru Bangsa: Tjokroaminoto yang menelan dana sekitar Rp 15 miliar itu. Selain dibikin secara kolosal, Garin juga memindahkan seluruh ‘bangunan’ rumah dan Hotel Oranje ke sebuah laboratorium hutan di Jogjakarta. Sedang mobil-mobil kuno diambil dari Pulau Bali.

“Saya tak bisa menggunakan bangunan kuno di Surabaya karena sebagian besar berfungsi sebagai kantor aktif. Kalau dipaksa pakai, tentu biayanya mahal karena pasti syutingnya malam hari saat gedung itu tak lagi dipakai,” bebernya.

Diskusi film yang digelar Paguyuban Cak Ning itu diawali napak tilas sejarah Tjokroaminoto yang dilanjut nonton bareng di Studio 21 Plasa Tunjungan. Kegiatan yang diikuti 60 orang itu diikuti sejumlah anggota Paguyuban Cak Ning, Surabaya Historical Community, Komunitas Pemuda Soekarno, serta masyarakat umum, termasuk dari kalangan kampus.

Setiap peserta dipungut bea Rp 40.000 untuk tiket nonton film di Studio 21 Plasa Tunjungan. “Transportasi kami didukung Dinas Perhubungan dan Dinas Pariwisata,” ungkap Mijil Prijanggo GR, koordinator acara itu.

Rombongan menyusuri rumah tempat kelahiran Bung Karno di kampung Pandean. Perjalanan berlanjut ke rumah Tjokroaminoto di kampung Peneleh. “Surabaya tak bisa dipungkiri adalah dapur revolusi sejarah Indonesia. Dan itu dimulai dari gerakan yang dilakukan Tjokroaminoto yang kemudian dilanjutkan oleh Soekarno sampai meraih kemerdekaan,” cetus Cak Saqib, Ketua Umum Paguyuban Cak Ning.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved