Pemberantasan Korupsi

Jaksa Kurung Pejabat Metrologi, Sikat Rp 500 Juta dari Banyak SPBU

Uang Rp 500 juta dikeruk dari hasil penarikan ke sejumlah SPBU dan uang Rp 400 juta dari hasil pemotongan anggaran operasional untuk anak buahnya.

Jaksa Kurung Pejabat Metrologi, Sikat Rp 500 Juta dari Banyak SPBU
SURYA.co.id - Muhammad Taufik
Hadi Wotomo, Kepala UPT Metrologi Surabaya, Disperindag Jatim saat digelandang petugas kejaksaan. Tersangka kasus korupsi Tera SPBU ini dijebloskan ke Rutan Kelas 1 Surabaya di Medaeng, Sidoarjo, Kamis (16/4/2015) sore. 

SURYA.co.id | SURABAYA – Jaksa mengurung Hadi Wotomo, Kepala UPT Metrologi Surabaya, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim di Rutan kelas 1 Surabaya di Medaeng, Sidoarjo Kamis (16/4/2015) sore.

Mantan Kepala UPT Metrologi Madiun ini berstatus sebagai tersangka kasus dugaan korupsi Bea Tera SPBU yang diusut penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim.

Dari sekian miliar uang hasil pungutan nonprosedural yang terjadi sejak 2000 hingga 2011, Hadi Utomo dianggap terbukti menikmati Rp 900 juta. Itu dilakukannya saat menjabat di Madiun.

Rincinya, uang Rp 500 juta dikeruk oleh tersangka dari hasil penarikan ke sejumlah SPBU di wilayah yang ditanganinya. Kemudian, dia juga diduga menyelewengkan uang Rp 400 juta dari hasil pemotongan anggaran operasional untuk anak buahnya.

Hadi Witomo sudah ditetapkan menjadi tersangka sejak awal Januari 2015. Setelah melalui serangkaian proses, berkas perkaranya sudah P-21 atau dinyatakan sempurna pada 14 April 2015 lalu.

Pada Kamis siang, berkas itu dilimpahkan tahap II oleh penyidik Kejati Jatim ke Kejari Madiun. “Karena locus delictie atau lokasi kejadiannya di Madiun,” ujar Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati Jatim, Romy Arizyanto, Kamis siang.

Pelimpahan tahap II itu dilakukan di Kantor Kejati Jatim. Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Madiun yang datang langsung ke Surabaya untuk menerima pelimpahan ini.

Setelah proses pemberkasan serta pemeriksaan tersangka, penyidik memutuskan untuk menahan Hadi Witomo.

“Jadi, yang melakukan penahanan ini Kejari Madiun. Tersangka ditahan di Medaeng, karena nanti proses sidangnya dilaksanakan di Pengadilan Tipikor Surabaya. Penahanan ini untuk mempermudah proses persidangan, dan mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” papar Romy.

Dalam perkara ini, Hadi Witomo dijerat tiga pasal sekaligus. Yakni pasal 2, 3, serta pasal 12 huruf e dan f, Undang-undang Tindak Pidana Korupsi.

Adapun jaksa penuntut umum (JPU) perkara ini nanti tiga jaksa Kejati Jatim: Siti Arendriyani, Adam Ahoiled, dan Dessy Rohman Prasetyo.

Sementara kuasa hukum Hadi Witomo, Kukuh Pramono Budi, menyebut bahwa penahanan ini berlebihan. “Klien kami selalu koperatif. Saya merasa bahwa penahanan ini terlalu berlebihan,” jawabnya.

Kendati demikian, Kukuh mengaku belum bisa berkomentar banyak.

Ia masih akan berkordinasi untuk menentukan langkah selanjutnya atas penahanan ini. “Bisa saja, kami akan mengajukan penangguhan penahanan, atau mungkin juga akan melayangkan gugatan praperadilan,” sambung Kukuh sebelum meninggalkan gedung Kejati Jatim.

Penulis: M Taufik
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved