Pemberantasan Korupsi

Ada Bos KPK, Wawali Malang Bilang, Kampus Sekarang Melempem

"Buat mahasiswa Malang, suaramu mana? Kampus di Malang sekarang melempem. Saya tagih panjenengan semua untuk mengontrol,” ucap Wawali.

Ada Bos KPK, Wawali Malang Bilang, Kampus Sekarang Melempem
SURYA.co.id/Dyan Rekohadi
Wakil Wali Kota Malang menghadiri acara dialog bersama Plt Pimpinan KPK, Johan Budi SP, di Sekretariat Malang Corruption Watch, 28 Maret 2015. 

SURYA.co.id | MALANG - Wakil Walikota (Wawali) Malang, Sutiaji, menantang mahasiswa di Malang untuk berani mengontrol jalannya pemerintahan di Kota Malang.

Tantangan itu disampaikan terbuka dalam diskusi publik yang menghadirkan salah satu Plt pimpinan KPK, Johan Budi SP, di Sekretariat Malang Corruption Watch, Jalan Joyosuko Metro, Merjosari, Kota Malang, Sabtu (28/3/2015).

Tantangan Sutiaji itu terlontar ketika ia diberi kesempatan berinteraksi langsung dengan Johan Budi sebagai salah satu bos KPK dalam diskusi.

“Buat mahasiswa Malang, suaramu mana? Kampus di Malang sekarang melempem. Saya tagih panjenengan (anda) semua untuk mengontrol,” ucap Sutiaji yang disambut dengan tepuk tangan peserta diskusi yang hadir.

Ia memaparkan bagaimana selama ini peran mahasiswa untuk turut mengontrol praktik-praktik korupsi yang dilakukan penguasa. Ia berjanji akan ambil langkah jika ada masukan dari masyarakat yang turut mengontrol kinerja jajarannya.

Bukan hanya menyindir peran mahasiswa yang dinilainya mulai loyo dalam mengontrol praktik korupsi di Malang, orang nomor dua di Kota Malang itu juga mengingatkan kolaborasi para pelaku korupsi dengan tokoh-tokoh agama.

Ia menyebut saat ini sudah banyak simbol agama yang dibuat legitimasi kebenaran tindak korupsi.

Pernyataan ini seolah melanjutkan pernyataan Johan Budi sebelumnya yang menyatakan korupsi sekarang ini sudah dilakukan oleh semua kalangan. Bukan hanya kepala pemerintahan tapi di instansi pendidikan pun banyak pelakunya.

“Ada yang mendapat sebutan ustad, ada yang disebut kyai nyatanya ya kami tangkap. Dari kalangan pendidikan, seorang professor saja sudah terjerumus, saya tidak tahu kalau para pendidik di Malang,” ujar Johan.

Penulis: Dyan Rekohadi
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved