Perayaan Hari Raya Nyepi
Ramayana dalam Ogoh-ogoh Buatan Sendiri
Untuk pembuatan ogoh-ogoh bertema cerita Ramayana itu, Agus dan Deni mengaku para mahasiswa membutuhkan dana sekitar lima juta rupiah.
Penulis: Satria Akbar Sigit | Editor: Wahjoe Harjanto
SURYA.CO.ID | SURABAYA - Hari Raya Nyepi sering dikaitkan dengan acara arak-arakan ogoh-ogoh. Patung bersosok makhluk-makhluk menyeramkan dari dongeng khas umat Hindu itu banyak ditemukan di berbagai Pura.
Begitu pula di Pura Segara Kenjeran yang terletak di Jalan Memet Sastrawirya No. 1A. Ada 7 buah ogoh-ogoh dengan wujud menyeramkan terpajang di pendopo serba guna yang terletak di sebelah barat area pura.
Dari 7 ogoh-ogoh itu, ada 1 buah ogoh-ogoh berukuran mini dengan tinggi kurang dari satu meter dan satu ogoh-ogoh berukuran raksasa yang masih belum memiliki kepala. Sementara, 5 ogoh-ogoh lain yang tingginya kira-kira 2 meter disusun berderet di tengah pendopo, semuanya berwujud mengerikan.
“Kami buat yang kecil untuk anak-anak besok. Mereka kan tidak kuat kalau harus mengangkat yang besar-besar,” terang Pemangku Pura Segara, Wayan Budi, sambil mengikat dua bilah bambu untuk membuat sanan. “Kalau yang raksasa itu buatan para mahasiswa.”
Suara ketukan palu kayu beradu dengan bambu dan besi tatah terdengar bertalu-talu di area pendopo itu. Terlihat Wayan Budi, dibantu oleh dua orang rekannya Made Arta dan John Candra sedang sibuk merangkai bambu untuk membuat sanan atau penyangga ogoh-ogoh di sana.
“Kami tahun ini mencoba membuat ogoh-ogoh sendiri mumpung punya waktu, biasanya kami impor dari Bali. Untuk membuatnya butuh waktu sekitar satu minggu, bahannya cukup dari styrofoam,” ujar Wayan Budi. “Tapi kalau mahasiswa-mahasiswa itu setiap tahun pasti membuat.”
Tak jauh dari tempat tiga orang yang sedang sibuk membuat sanan tersebut, ada dua orang pemuda yang terlihat sibuk menatah lembaran karet menjadi sebentuk hiasan sambil dikerumuni beberapa anak kecil. Mereka adalah Agus Antara dan Made Reni, mahasiswa ITS yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Hindu.
“Pembuatan ogoh-ogoh ini sudah sejak awal Februari lalu. Memang butuh waktu lama karena kalau mahasiswa kan masih harus diselingi kuliah juga, nanti yang bertugas di sini bergantian,” terang Agus.
Agus mengatakan, setiap malam ada tiga hingga lima orang yang bergantian menyempurnakan ogoh-ogoh itu. Namun, jika sudah mendekati tenggat waktu, belasan mahasiswa lain akan bergotong-royong mengerjakannya.
Tahun ini, para mahasiswa tersebut membuat ogoh-ogoh yang menggambarkan sebuah adegan Ramayana. Adegan yang dipilih adalah adegan saat Rahwana sedang berlari membawa Shinta di tangannya sambil dikejar oleh Hanoman.
“Kami rapatkan dulu tema ogoh-ogoh tahun ini, akhirnya anak-anak sepakat mau buat adegan ini. Sebenarnya yang mengejar Rahwana itu bukan Hanoman, tapi Jathayu, sosok Garuda,” terang Agus. “Tapi karena sosok Jathayu terlalu rumit dan kami memang ingin berkreasi, maka Jathayu diganti dengan Hanoman.”
Untuk pembuatan ogoh-ogoh bertema cerita Ramayana itu, Agus dan Deni mengaku para mahasiswa membutuhkan dana sekitar lima juta rupiah. Tapi semua dana pembuatan ogoh-ogoh itu bukan berasal dari kantong pribadi mahasiswa, melainkan ditanggung oleh pihak pengurus Pura. “Kami sih tinggal menuangkan kreasi kami saja,” ujar Deni yang mengaku baru pertama kali membuat ogoh-ogoh sendiri.
Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok. LIKE Facebook Page www.facebook.com/SURYAonline FOLLOW www.twitter.com/portalSURYA