Kasus Pencemaran Nama Baik

Polisi Panggil Admin Grup WhatsApp soal Foto Selfie Perawat

Perawat bernama Khoiriatul Masruroh (28) melaporkan dokter Antarestawati (31). Polisi Malang akan panggil admin grup WhatsApp.

Polisi Panggil Admin Grup WhatsApp soal Foto Selfie Perawat
@PopularMagz
ILUSTRASI 

SURYA.co.id | KEPANJEN - Polres Malang berniat memeriksa administrator grup WhatsApp (WA) untuk sebagian pegawai dan dokter Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanjuruhan Kabupaten Malang.

Ini terkait penyebaran foto selfie perawat bernama Khoiriatul Masruroh (28) dalam forum maya itu oleh seorang dokter di RSUD tersebut. Penyebaran foto jadi masalah pidana karena si dokter menambahkan keterangan: "Buka Lapak...150 ewu/jam".

"Kami akan panggil admin grup WA pekan ini. Setelah itu dimungkinkan kami akan menggunakan saksi ahli," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Malang, Ajun Komisaris Wahyu Hidayat, Minggu (15/3/2015).

UPDATE: Ini Foto Selfie Resepsionis Cantik Yang Dicemarkan Dokter di Malang

Menurut dia, penyidik juga akan mendalami kasus itu untuk mengembangkan penyelidikan. Hingga saat ini belum diketahui alasan si dokter mengunggah foto dalam grup WA (Baca juga: Dokter di Malang Posting Foto Selfie Perawat Pakai Kata "Buka Lapak")

Informasi dari polisi, Khoiriatul Masruroh sebetulnya tidak tergabung dalam grup WA itu. Namun, seorang rekan kerjanya yang tergabung dalam grup WA itu kemudian memberitahu. Khoiriatul pun kaget melihat fotonya mendapat banyak komentar negatif.

Khoiriatul pun melaporkan dokter bernama Antarestawati (31) ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Kepolisian Resor Malang, Jumat (12/3/2015).

Khoiriatul merupakan warga Dusun Krantil, Desa Karangrejo, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, sedangkan Antarestawati tinggal di Kota Malang.

Dalam foto yang diunggah itu, foto selfie Khoiriatul ketika mengenakan jersey klub sepak bola Eropa diedit lantas ditambah kalimat "Buka lapak... 150 ewu/jam".

Polisi akan menggunkan Pasal 45 ayat 1 juncto pasal 27 Ayat 3 dari Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik No 11 Tahun 2008. Ancaman hukumannya maksimal enam tahun penjara.

Penulis: Benni Indo
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved