Eksklusif Bongkar Human Trafficking
Deg-degan Misi Pertama Hanya Bermodal Petunjuk Pohon Pisang
Butuh waktu beberapa jam untuk keliling Batam mencari lokasi kejadian, hingga ditemukan kompleks ruko di kawasan Sukajadi.
SURYA.co.id | SURABAYA - Operasi penyelamatan menjadi pengalaman paling mendebarkan bagi Irma Nasution.
Untuk kali pertama, perwira wanita polisi di Polrestabes Surabaya ini menerima tugas memimpin operasi di lapangan.
Sempat kesulitan menemukan lokasi penyekapan, karena semua tempat sama-sama ditandai pohon pisang.
Irma Nasution bagai menerima kursi berhadiah. Baru empat hari menjabat Kasubnit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya, ia harus memimpin operasi penyelamatan Mita, gadis Surabaya yang dijual di Batam.
Gadis berusia 29 tahun ini mengaku sempat kurang percaya diri, karena belum pernah memimpin operasi kasus pidana, apalagi di luar pulau.
“Ini pengalaman pertama menangani kejahatan perdagangan manusia. Cukup menantang, juga menegangkan,” katanya sembari tersenyum.
Selain nol pengalaman, masih ada tantangan lain yang harus dihadapi. Perempuan berdarah Batak-Jawa berangkat ke Batam dengan informasi minim.
Rindi, korban human trafficking yang lolos, tidak tahu nama dan alamat mess, tempat ia disekap di Batam.
Ia hanya menjelaskan bahwa mess itu berupa ruko tiga lantai yang bercat hijau.
“Korban ini tidak pernah tahu lingkungan sekitar, karena tidak boleh keluar dari mess. Mereka hanya keluar sekitar pukul 19.00 WIB,” katanya.
Butuh waktu beberapa jam untuk keliling Batam mencari lokasi kejadian, hingga ditemukan kompleks ruko di kawasan Sukajadi.
Tapi, ruko di blok mana, tidak diketahui. Padahal, semua blok ruko sama-sama bercat hijau.
“Korban menyebut di ruko ada pohon pisang. Lha repotnya, semua ruko ada pohon pisangnya,” kata Iptu Pol Irma sembari tertawa. (idl)
Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok
LIKE Facebook Surya - http://facebook.com/SURYAonline
FOLLOW Twitter Surya - http://twitter.com/portalSURYA