Sabtu, 18 April 2026

Gerabah Cenderamata

Ngadiyono Melawan Mitos Orangtua, Tidak Sudi Hanya Bikin Gerabah Dapur

NGADIYONO SADAR - Kesalahan orangtua saya hanya membuat gerabah untuk perlengkapan dapur. Dia tidak mengembangkan gerabah untuk hiasan rumah.

Penulis: Samsul Hadi | Editor: Yuli

SURYA.co.id | MALANG – Darah perajin gerabah sudah mengalir di tubuh Ngadiyono (56), sejak kecil. Kedua orangtuanya, almarhum Rahmat dan almarhumah Watini, memang terkenal sebagai perajin gerabah di Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen, Kota Malang.

Tetapi, sebelum meninggal, kedua orangtuanya berpesan kepada Ngadiyono dan delapan saudaranya agar tidak menjadi perajin gerabah. Alasannya, penghasilan sebagai perajin gerabah tidak bisa untuk menyejahterakan keluarga.

Ngadiyono berusaha memecahkan mitos orangtuanya itu. Sejak 1987, ia menekuni usaha membuat gerabah. Hasilnya, usaha gerabah milik Ngadiyono saat ini berkembang pesat.

Penghasilan dari usaha gerabah tidak hanya mampu menghidupi keluarganya, tetapi juga memberikan lapangan pekerja bagi tetangganya. Ngadiyono juga bisa dibilang sebagai orang pertama yang memelopori kerajinan gerabah untuk souvenir di Kota Malang.

“Dari sembilan bersaudara, hanya saya yang meneruskan usaha orangtua sebagai perajin gerabah. Saya bisa memecahkan mitos dari orangtua. Ternyata menjadi perajin gerabah tetap bisa menyejahterakan keluarga,” kata bapak tiga anak itu saat ditemui di rumahnya, di RT 4 RW 6 Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jumat (27/2).

Ia bercerita, keinginannya menyeriusi usaha gerabah muncul setelah mengikuti pelatihan di Yogyakarta pada 1982. Dalam pelatihan itu, ia baru tahu ternyata kerajinan gerabah juga bisa dibuat souvenir untuk hiasan rumah. Sebab, selama ini, orangtuanya hanya membuat gerabah untuk perlengkapan dapur.

“Mungkin kesalahan orangtua saya hanya membuat gerabah untuk perlengkapan dapur. Dia tidak mengembangkan gerabah untuk hiasan rumah. Makanya penghasilan menjadi perajin gerabah tidak bisa menyejahterakan keluarga,” ujar pria yang sempat bekerja di bengkel mobil itu.

Setelah mendapatkan ilmu dari pelatihan, Ngadiyono berusaha membuat bermacam-macam bentuk gerabah untuk souvenir. Ia menawarkan gerabah itu ke sejumlah toko souvenir di Kota Malang. Ternyata, sejumlah toko yang ditawari tidak tertarik dengan gerabah souvenir yang diproduksi Ngadiyono.

“Saya bingung mencari cara memasarkan gerabah souvenir ini. Semua toko menolak. Padahal saya terlanjur memproduksi banyak. Memang saat itu, di Kota Malang lagi trend souvenir berbahan keramik,” katanya.

Meski demikian, Ngadiyono tetap tidak patah arang. Pada suatu kesempatan, ia mengikuti pendidikan non-formal soal manajemen usaha kerajinan rumah tangga. Ngadiyono belajar ilmu pemasaran dan pengelolaan keuangan usaha rumah tangga di pendidikan non-formal itu. Ia pun mempraktikannya di usaha kerajinan gerabahnya.

Setelah mengikuti pelatihan manajemen, Ngadiyono membuat kartu nama untuk memasarkan produksi gerabah miliknya. Ia menyebar kartu nama itu di wilayah Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu. Ia juga memasang sambungan telepon di rumahnya. Awalnya, para tetangga heran dengan cara pemasaran yang dilakukan Ngadiyono.

“Tak sampai lima bulan, setelah menyebar kartu nama, saya kebanjiran order. Banyak pesanan yang datang dari Kota Batu dan Kabupaten Malang. Sejak itu, sekitar tahun 1987, saya mulai serius terjun di usaha kerajinan gerabah,” ujarnya.

Ketika kebanjiran order, Ngadiyono merasa senang dan bingung. Ia merasa senang karena sistem pemasaran yang ia terapkan berjalan. Ia bingung karena tidak punya modal untuk mengerjakan pesanan souvenir dari para pelanggan.

“Akhirnya, setiap pemesan saya suruh bayar uang muka 50 persen. Uang muka itu saya buat mengerjakan pesanan tersebut,” katanya.

Awalnya, semua pesanan souvenir itu ia kerjakan bersama istri, Sriana (53) dan anaknya. Ia belum bernai mempekerjakan pegawai karena khawatir tidak bisa menggaji. Tetapi, setelah pesanan terus bertambah, Ngadiyono merekrut beberapa tetangga untuk menjadi pegawainya.

“Sekarang saya punya enam pekerja. Setiap hari saya memproduksi 600 biji souvenir. Souvenir itu saya kirim ke Surabaya, Kalimantan, dan melayani pesanan di Malang Raya. Saya juga sering diundang sebagai instruktur dalam pelatihan kerajinan membuat gerabah,” katanya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved