Jumat, 8 Mei 2026

Tugas Akhir Mahasiswa UK Petra

William Rancang Listrik Mikrohibrid, Manfaatkan Pompa Tenaga Angin

Sebagai bahan Tugas Akhirnya, ia mencoba membuat model yang bisa dipakai gedung P1 dan P2 UK Petra setinggi 52 meter.

Tayang:
Penulis: M Taufik | Editor: Parmin

SURYA.co.id | SURABAYA - Konsumsi listrik di perkotaan terus meningkat, terutama untuk bangunan-bangunan modern yang umumnya memiliki tekstur gedung pencakar langit. Tertarik untuk memecahkan masalah ini, William Alex Ginardy Lie melakukan sebuah terobosan baru. Merancang listrik mikrohibrid yang sistem penggeraknya memanfaatkan pompa tenaga angin.

Mahasiswa berpredikat cum laude dari Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Mesin Universitas Kristen Petra (UK Petra) ini mengaku telah lama ingin mewujudkan idenya itu.
Terinspirasi dari aliran air sungai yang kurang dimanfaatkan secara optimal, William ingin membuat air itu bernilai lebih.

Di tangannya, air sungai beraliran deras itu kemudian ditampung pada sebuah wadah atau tangki yang kemudian disalurkan ke bawah sehingga memutar kincir. Kincir ini dapat menggerakkan dinamo yang mengubah air menjadi aliran listrik, sehingga dapat menyalakan lampu.

Putra pertama pasangan Alex dan Veronica ini mengandalkan sistem pompa yang menggerakkan turbin kemudian menyedot air naik ke atas tempat penampungan.

Dalam wadah ini, air sengaja ditampung sebanyak mungkin, barulah kemudian dilepas hingga kembali memutar kincir, menggerakkan dinamo, menyalakan listrik.

Siklus tersebut terus berputar, karena suatu waktu air akan habis. Maka diperlukan perlu turbin untuk mensirkulasi air kembali ke tangki, sebab pergerakan angin tidak selalu stabil.

Agak rumit memang mulai dari penentuan ide, konsep,desain, merancang alat, namun Willian yakin karyanya dapat bermanfaat.

“Saya membuat perancangan sistem pompa tenaga angin ini, karena gratis dan mudah ditemui. Angin itu mengonversi energi tersebut ke energi potensial berupa penyimpanan air di ketinggian gedung,” ujar peraih IPK 3,63 ini.

William ingin hasil karyanya ini bisa diaplikasikan secara massal. Sebagai bahan Tugas Akhirnya, ia mencoba membuat model yang bisa dipakai gedung P1 dan P2 UK Petra setinggi 52 meter.

Modal awal pembuatan alat yang selesai dalam waktu 9 bulan ini menghabisakan Rp 3 juta. Sedangkan ia belum bisa memastikan harga alat buatannya jika dipakai perusahaan besar. Hanya diperkirakan mencapai miliaran rupiah, karena butuh alat yang besar.

“Cukup dengan 300 meter kubik air saja, bisa menghasilkan daya listrik sebesar 5 KiloWatt, yang akan menyala selama 8 jam sehari,” tutup mahasiswa asal Tarakan ini. (magdalena f/gea)

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok.
LIKE Facebook Page www.facebook.com/SURYAonline
FOLLOW www.twitter.com/portalSURYA

Tags
UK Petra
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved