Petani di Kota Batu Tetap Tanam Kentang Organik Meski Lebih Kecil

Ukuran kentang hasil organik tidak bisa besar karena tidak ada rangsangan kimia pada tanaman.

Petani di Kota Batu Tetap Tanam Kentang Organik Meski Lebih Kecil
SURYA.co.id/Iksan Fauzi
Para pekerja UD Subur Makmur memilah kentang berdasarkan ukuran. Kentang itu akan dikirim ke berbagai daerah di Indonesia bagian timur. 

SURYA.co.id | BATU - Ukuran kentang hasil menerapkan pertanian organik belum mampu menyangi produk kentang menggunakan obat kimia. Ukuran kentang pertanian organik jauh lebih kecil, yakni seperempat dari produk kimia.

Seorang petani organik asal Desa Sumberbrantas, Kota Batu, Slamet Jinurung, sudah hampir tiga tahun ini menerapkan pertanian organik untuk tanaman kentang dan wortel. Masing-masing tanaman organik itu ditanam di lahan seluas 200 meter persegi.

Menurut Slamet, meski hasil pertanian organik kurang maksimal, Kepala Urusan Ekonomi dan Pengembangan Desa Sumberbrantas ini ingin memberikan contoh kepada petani lain di desanya agar beralih ke organik.

“Saya menerapkan pertanian organik ini sesuai anjuran Pemkot Batu,” ungkap pria yang memiliki kumis tebal ini, Selasa (24/2/2015).

Slamet selalu panen dua kali dalam setahun. Hasil pertaniannya itu dijual ke Pasar Batu. Selama ini, Slamet belum memiliki pangsa pasar untuk menjual produk organik, di sisi lain, keinginannya mendapatkan sertifikat pertanian organik juga tak mudah.

“Kami sudah mengajukan (sertifikat organik) lewat Gapoktan Anjasmoro (Desa Sumberbrantas), tapi belum ada kabar,” katanya.

Kondisi pertanian organik dan kimia terasa beda jauh. Pengamatan SURYA di Desa Sumberbrantas, ada UD Subur Makmur di Dusun Lemah Putih yang memiliki lahan untuk tanaman dan pengepul kentang dari petani. UD ini penyalur kentang ke berbagai daerah.

Kepala Pemasaran UD Subur Makmur, Joko Sutrisno, mengatakan, ukuran kentang hasil organik tidak bisa besar karena tidak ada rangsangan pada tanaman. Pihak UD Subur Makmur masih menggunakan obat kimia untuk memacu pertumbuhan kentang.

“Kalau organik tidak bisa dirangsang karena obat perangsang pertumbuhan tanaman biasanya terbuat dari kimia,” ujar Joko.

UD Subur Makmur sepekan sekali mengirimkan 20 ton kentang ke pabrik Siantar Top di Sidoarjo untuk makanan ringan kentang, tepung, dan crispy. Sedangkan kiriman ke luar pulau biasanya ke Ambon dan Papua.

Ukuran kentang yang dikirim bervariasi, ada yang berdiameter 5 cm hingga 12 cm. Harga kentang dari petani saat ini antara Rp 6.000-Rp 8.000. “Kalau stok kentang di sini (di Desa Sumberbrantas) kosong, kami mengambil kentang dari Tengger,” katanya.

Penulis: Iksan Fauzi
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved