Agroindustri

Petani Paprika Sukses di Batu Ternyata Masih Impor Benih dari Belanda

@portalSURYA - Bibit paprika dari Belanda seharga Rp 10 juta per seribunya. Biaya perawatan tanaman Rp 15.000 per pohon per tahun.

Petani Paprika Sukses di Batu Ternyata Masih Impor Benih dari Belanda
SURYA.co.id/Iksan Fauzi
Buruh tani yang bekerja kepada Budi Prayitno sedang membersihkan tanaman paprika di green house di Desa Sumberbrantas, Kota Batu, Senin (23/2/2015). 

SURYA.co.id | KOTA BATU - Budi Prayitno (44), satu di antara lima petani paprika di Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu yang sudah menuai kesuksesan. Ia menggeluti bisnis pertanian paprika ini sejak 10 tahun lalu.

Berawal dari ikut pelatihan di PT Joro, Prayitno tertarik untuk mendalami pertanian paprika. Tak perlu lahan luas, tapi hasil menjual paprika memberikan keuntungan besar dibandingkan usaha pertanian lainnya. Sebelumnya, ia petani sayur mayur, seperti wortel dan sawi.

Keuntungan menanam paprika, sambung lulusan SMA Yos Sudarso tahun 1992 itu, tidak membutuhkan lahan luas, hasilnya bagus, resikonya lebih kecil, bisa panen sewaktu-waktu sesuai jumlah permintaan.

“Cuma, modal awal untuk membuat green house besar,” kata Prayitno saat ditemui di rumahnya, Jalan Jeblokan II nomor 1 RT 3 RW 3 Dusun Krajan, Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, Senin (23/2).

Saat memulai usaha barunya itu, Prayitno mengeluarkan modal Rp 20 juta untuk membuat satu green house ukuran 400 meter persegi. Kini, ia memiliki tujuh green house, jika ditotal, lahannya sekarang mencapai 6.000 meter persegi.

Menurutnya, pasar paprika hingga sekarang masih menjanjikan. Sepekan, Prayitno mengirimkan paprika ke Makassar, Balikpapan, dan Bali masing-masing tempat dua kali kiriman. Sekali kirim ke Makassar mencapai 600 kg, Bali 500 kg, Balikpapan 300 kg.

Ada tiga warna paprika yang diminta pelanggan Prayitno, yakni paprika warna hijau seharga Rp 15.000 per kg, warna merah Rp 30.000, dan kuning Rp 35.000. Menurut Prayitno, tiga warna paprika itu hanya berbeda warna saja, disesuaikan permintaan konsumen.

“Permintaan paling banyak tahun baru dan saat libur sekolah. Sayuran ini sangat diminati para turis,” katanya.

Bisnis paprika Prayitno tidak selalu berjalan mulus. Tragedi bom Bali 2 pada tahun 2007 merontokkan bisnisnya itu. Saat itu, permintaan pelanggan dari Bali paling besar. Peristiwa itu menyebabkan tak ada permintaan sama sekali dari sana.

“Satu ton paprika nganggur tak terjual. Waktu itu ya rugi besar, tak tahu nilainya berapa, pokoknya tak seimbang biaya operasional dengan pendapatan,” terangnya.

Halaman
12
Penulis: Iksan Fauzi
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved