Kamis, 9 April 2026

Jejak Kelenteng Khong Hu Cu 3

Aromanya Harum, Hio Bukan Pengundang Setan!

Dupa batang sarana pengundang setan? “Ini jelas salah kaprah. Salah persepsi dan menyesatkan."

Penulis: Achmad Pramudito | Editor: Achmad Pramudito

SURYA.co.id | SURABAYA - Dupa sarana pengundang setan? Itulah kesan yang belakangan tertanam di masyarakat lantaran tayangan yang mereka saksikan di sebuah stasiun televisi swasta. Tayangan yang disesalkan oleh Siek Lian Khing, karena dianggap menyesatkan masyarakat.

Dalam tayangan itu, pemandu acara maupun bintang tamu sering menggunakan dupa batang sebagai saran pengundang hadirnya makhluk halus. Dan tempat-tempat yang dipilih adalah yang angker dan diyakini sebagai ‘rumah’ makhluk-makhluk dari ‘dunia lain’.

“Ini jelas salah kaprah. Salah persepsi dan menyesatkan. Dupa batang (hio) bukan untuk pengundang setan atau sejenisnya!” tandas guru agama Kelenteng Pak Kik Bio ini kepada Surya, Selasa (17/2).

Menurut Siek Lian Khing, media yang sering digunakan untuk mengundang ‘lelembut’ ini dulu adalah kemenyan. “Ini kan pilih praktisnya saja, karena kalau nyalakan dupa batang nggak pakai arang,” tegasnya.

Sedang hio, selain aromanya bisa mengharumkan ruangan, juga sering digunakan untuk mengukur waktu saat melakukan upacara. “Satu batang hio itu bisa bertahan selama satu seperempat jam. Jadi itulah waktu yang dipakai untuk menjalani upacara persembahyangan,” paparnya.

Menurut Siek, aroma harum hio yang terbuat dari batang bambu ini pun bisa untuk meningkatkan konsentrasi saat melakukan peribadatan. “Penggunaan bambu ini ada filsafatnya. Tanaman bambu ini kan tidak bercabang, dan tumbuhnya lurus ke atas. Semestinya, itulah hidup kita, selalu lurus focus pada tujuan,” beber pria yang merasakan pahitnya menjalani kehidupan sebagai penganut Khong Hu Cu di masa Orde Baru.

Ditambahkan Siek, karena mengandung nilai filsafat tinggi itulah, semua peralatan orang Tionghoa, khususnya yang berkaitan dengan peribadatan umat Khong Hu Cu terbuat dari bambu. Misalnya alat tulis (pit) yang terbuat dari kuas bambu, maupun alat makan (sumpit).

“Ada pula kepingan bambu yang digunakan sebagai media tanya jawab dengan para suci. Itu terbuat dari akar bambu dan sangat kuat karena diambil dari bamboo yang sudah matang,” ungkapnya.

Menyembah Berhala
Selain pemanfaatan dupa yang dianggap sebagai pengundang setan, lanjut Siek, masih ada anggapan salah masyarakat yang menuding umat Khong Hu Cu menyembah berhala. “Sebelum agama lain meyakini Ketuhanan Yang Maha Esa, kami sudah lebih dulu,” tandasnya.
Siek lalu memberi contoh bejana yang ada di setiap kelenteng. Bejana dari kuningan itu adalah media untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Bejana di depan pintu masuk itu untuk puja bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa,” cetusnya.

Akibat persepsi salah itulah, pengurus Kelenteng Pak Kik Bio selalu aktif melalukan penyuluhan pada anggota masyarakat, terutama umat Khong Hu Cu. “Kami manfaatkan media yang ada, baik saat peribadatan bersama maupun ketika melakukan bakti sosial agar tak ada lagi pandangan salah seperti itu tadi,” kata Siek.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved