Sejarah Panjang Bandara Trunojoyo Sumenep

Susi Air akan membuka dua jalur penerbangan, yakni menuju Bandara Juanda dan jalur perintis dari Bandara Trunojoyo di Pulau Kangean, Sumenep.

Penulis: Moh Rivai | Editor: Wahjoe Harjanto

SURYA.CO.ID | SUMENEP – Bandar Udara Trunojoyo yang mulai dibanguan Tahun 1970-an pada saat kepemimpinan Bupati Sumenep, Soemar’oem, awalnya hanya berupa Lapangan Terbang (Lapter).

Namun sejak Tahun 2007 dan 2008, pada zaman kepemimpinan Bupati Ramdlan Siraj, timbul gagasan untuk menjadikan Lapter yang terletak di Desa Marengan Daya, Kecamatan Kalianget itu dijadikan Bandar Udara untuk melayani penerbangan komersil.

Tahun 2008 Bandara Trunojoyo mendapat angin segar dari Kementerian Perhubungan RI untuk dijadikan bandara komersil. Direktorat Teknik Bandara Dirjen Perhubungan Udara, Cecep Kurniawan bersama Yoga Kumala dari Direktorat Teknik Perhubungan Udara dan staf Administrator Juanda Surabaya, terjun ke Bandara Trunojoyo Sumenep untuk memastikan rencana besar tersebut, seiring dengan banyak berdiriya bandara di Jatim, seperti di Jember saat itu.

Sejak saat itu pulalah Bandara Trunojoyo mulai berbenah, mulai dengan menambah fasilitas utama bandara, yakni pembangunan fasilitas keselamatan penerbangan dan bangunan NDB untuk navigasi penerbangan.

Juga dibangun fasilitas pertolongan kecelakaan penerbangan, pemadaman kebakaran (PKP-PK), bak air kapasitas 5.000 liter dan Non Directional Beacon (NDB).

"NDB ini salah satu fasilitas navigasi penerbangan yang diletakkan di dalam bangunan (rumah NDB) di areal lapantan terbang. Fungsinya agar lokasi bandara dapat terpantau oleh pesawat yang akan landing dan take off," ujar Cecep Kurniawan Tahun 2008 lalu.

Tidak hanya kelengkapan fasilitas bandara, Cecep juga mengatakan, bahwa runway atau landasan pacu Bandara Trunojoyo saat itu yang panjangnya hanya 800 meter, harus ditambah, sedikitnya 1.200 meter, agar pesawat jenis Cassa 212 dan pesawat Cesna bisa landing dan take off di Bandara Trunojoyo.

Karenanya, pada Tahun 2008 Pemerintah Kabupaten dan DPRD Sumenep telah mengucurkan sekitar Rp 5 hingga 10 miliar untuk kepentingan perpanjangan landasan pacu. Namun hingga akhir masa jabatan Bupati Ramdlan Siraj Tahun 2010, rencana komersi Bandara Trunojoyo belum juga terwujud.

Pada awal kepemimpinan Bupati baru, Busyro Karim, yakni Tahun 2011 Bandara Trunojoyo kembali diliirik untuk mewujudkan mimpi Bandara Trunojoyo sebagai bandara komersil. Bahkan Bupati Busyro pernah mengusulkan perobahan nama Bandara Trunojoyo menjadi Bandara Sultan Abdurrahman (nama salah satu raja Sumenep).

Namun, usulan Bupati Busyro gagal dan Bandara Trunojoyo tetap seperti semula. Dan kali ini, Bupati Busyro hanya fokus untuk meneruskan niat Bupati sebelumnya yang akan segera menjadikan bandara tersebut sebagai bandara komersil.

"Insyaallah pertengahan Maret 2012 Bandara Trunojoyo sudah resmi komersial. Sejumlah perusahaan menyatakan akan menggunakan bandara tersebut yakni perusahaan minyak dan gas (migas) yang ada di Sumenep," tandas Busyro Karim pada Tahun 2012.

Salah satu operator perusahaan penerbangan yang akan membuka layanan penerbangan di Bandara Trunojoyo Sumenep saat itu adalah PT Wing Umar Sadewa (Wing Air). "PT Wing Umar Sadewa sudah melakukan survey dan pengecekan kelengkapan Bandara Trusnojoyo," imbuh Busyro.

Saat itu Wing Air telah mencoba penerbangan pada malam hari, untuk memastikan bandara tersebut sudah bisa take off dan landing pada malam hari. Dan semua fasilitas bandara untuk sebuah penerbangan pesawat jenis Cassa 212 sudah dinilai cukup. Karena lampu di sepanjang runway juga sudah lengkap bersama peralatan canggih lainnya. Termasuk radar pemantau pesawat.

Namun rencana tersebut, entah bagaimana, rencana penerbangan perdana untuk komersil tidak terwujud. Tiba-tiba muncul kabar kalau Bandara Trunojoyo ditempati sekolah penerbang milik Merpati Nusantara Air Line-Merpati Pilot School (MPS).

Lepas dari Wing Air, Merpati Air, Pemkab Sumenep pada Tahun 2014 mengatakan, telah kontrak kerjasama dengan Trigana Air Line. Bahkan pada Bulan Juli 2014, Trigana dan Pemkab Sumenep mengaku telah terikat kontrak kerjasama penerbangan komersial dari Bandara Trunojoyo Sumenep–Juanda–Banyuwangi–Malang hingga Banjarmasin.

Saat itu, Bupati Sumenep bahkan telah mengundang sejumlah pejabat di Provinsi Jawa Timur untuk meresmikan penerbangan perdana Trigana Air dengan pesawat ATR 42 dengan 42 kursi penumpang. Namun rencana tersebut gigit jari, rencana peresmian yang sudah kadung mengundang pejabat dilingkungan Pemkab Sumenep bahkan Provinsi Jawa Timur dan Pusat, gagal.

Tiba-tiba, pada pertengahan Januari 2015, Pemkab Sumenep mengaku sudah memastikan 'cerai' dengan Trigana dan saat itu telah meminang Susi Air milik Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudjiastutik.

Susi Air akan membuka dua jalur penerbangan, yakni menuju Bandara Juanda dan jalur perintis dari Bandara Trunojoyo di Pulau Kangean, Sumenep.

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok. LIKE Facebook Page www.facebook.com/SURYAonline FOLLOW www.twitter.com/portalSURYA

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved