Antara Ghida, Dawa, dan Da

sebaik-baiknya manusia adalah dia yang paling banyak membawa manfaat.... lha Anda?

Antara Ghida, Dawa, dan Da
A Mufti Hidayat

A MUFTI HIDAYAT
Alumnus MMA 2002 PP Bahrul Ulum Jombang
fb.com/mufthyat

ILMU yang berharga adalah ilmu yang bermanfaat. Di antara faktor penentunya ialah keikhlasan guru dan ketaatan murid. Guru mendoakan muridnya dan murid memberikan penghormatan kepada gurunya. Tak ayal, jika kondisi seperti itu mampu menumbuhkan harmonisasi kekeluargaan antara guru dan murid.

Seperti disampaikan KH Abdul Nashir Fattah saat reuni Saujana MMA angkatan 2002, 25 Desember 2014 silam di Madrasah Mu’allimin Mu’allimat Atas. Beliau menuturkan dua bentuk dzurriyyah (keturunan). Jamak diketahui, dzurriyyah linnasab (keturunan atas dasar hubungan darah), seperti hubungan orang tua dengan anak. Selain, hubungan guru yang memberikan ilmu kepada anak didiknya termasuk kategori dzurriyyah lissabab (keturunan atas dasar sebab).

Kedekatan rasa dapat terjalin lantaran saling mendoakan antara guru dan murid hingga kecintaan itu terwujud dalam bentuk silaturrahim. Temu alumni yang dihadiri 54 alumni dari berbagai kota di Jatim dan Jateng itu kemeriahan kian lengkap dengan keikutsertaan keluarga mereka yang sekalian liburan akhir tahun. Kendati profesi mereka berbeda, mulai guru, ustadz, pembantu rektor, hingga pengusaha, nuansa pesantren masih kental terasa, guyub dan guyonan khas santri pun tersaji.

Dalam sambutannya sebagai alumnus, Wanto S.Pd.I menyampaikan, keberhasilan bukan hanya bertumpu pada kompetensi diri melainkan berkat doa para masyayikh (kiai dan guru). Betapa dulu kita tidak mampu memahami pelajaran dengan baik, namun saat terjun ke masyarakat terasa lebih mudah memahami dan mengamalkannya.

Apapun profesinya, KH Sulton Abdul Hadi menuturkan, seseorang akan mengalami dan menjumpai di antara tiga tipe manusia. Adakalanya seseorang hidup di masyarakat bagaikan makanan (ghida’). Siapapun pasti butuh makanan setiap harinya, entah tiga atau hanya sekali dalam sehari. Karena itu, ia sangat bermanfaat, akan dicari dan dibutuhkan warganya.

Kedua, seseorang hidup di masyarakat ibarat obat (dawa’). Ya, obat dibutuhkan orang tapi hanya yang sakit. Jika sudah sehat, tentu tidak membutuhkan lagi. Sebab itulah, obat bersifat temporer. Ia akan dibutuhkan jika diperlukan dan jika tidak, ia akan ditinggalkan, lanjut Kiai Sulton.

Sedangkan tipe terakhir, seseorang hidup di masyarakat seperti penyakit (da’). Tentu, tidak ada orang yang ingin menjadi atau terkena penyakit. Di samping tidak bisa memberi bermanfaat, ia justru menjadi embrio kekacauan, menggangu kenyamanan dan ketenangan di masyarakat. Tinggalkan tipe ini, pungkas pengasuh Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang itu.

Tags
LIPI
dawa
Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved