PON Remaja 2014

Paling Susah Benahi Psilokologis Atlet

Kami harus perlahan-perlahan membangkitkan semangat dan kepercayaan diri mereka

Penulis: Haorrahman | Editor: Wahjoe Harjanto

SURYA Online, SURABAYA - Menjadi tuan rumah dan dituntut meraih medali emas di PON Remaja 1, merupakan tantangan tersendiri bagi atlet-atlet Jawa Timur, terutama mengatasi psikologi atlet.

Ini yang dirasakan oleh tim pelatih Jatim cabang olahraga (cabor) bulu tangkis meski sukses melampaui target dengan meraih dua emas, dari tiga kelas yang dipertandingkan.

Jatim sukses meraih emas di tunggal putri dan ganda campuran, padahal di PON Remaja ini, bulutangkis Jatim tidak terlalu diperhitungkan dan hanya ditarget satu medali emas.

”Mereka masih berusia remaja, di bawah 16 tahun, sehingga yang paling sulit adalah membenahi psikologis mereka,” kata Koko Pambudi, Manajer Bulutangkis Jatim, Sabtu (13/12/2014).

Koko memaklumi, PON Remaja merupakan multievent yang baru pertama kali digelar di Indonesia. Bermain di kandang sendiri, justru membuat mereka merasa terbebani.

Padahal secara logika, atlet-atlet Jatim seharusnya bisa dengan cepat beradaptasi dengan kondisi lapangan. Seluk-beluk lapangan pun telah hafal luar dalam. Namun ternyata itu tidak mudah.

”Kami harus perlahan-perlahan membangkitkan semangat dan kepercayaan diri mereka,” kata Koko.

Seperti yang dialami pasangan ganda campuran, Miftahul Nabila dan Akbar Gusti Ramadhan, penampilan mereka beberapa kali tidak sesuai harapan. Padahal seharusnya, mereka bisa dengan mudah mengalahkan lawan-lawannya.

Ini karena mereka merupakan unggulan pertama dan ditargetkan meraih emas. ”Kadang Akbar bermain jelek, namun beruntung Nabila yang tampil bagus. Kadang juga Nabila bermain jelek, tapi giliran Akbar yang bermain bagus. Ini faktor psikologis,” kata Koko.

Padahal keduanya telah berpengalaman tampil di kejuaraan nasional, bahkan sering tampil di kejuaraan senior. ”Secara mental sebenarnya mereka telah terasah karena berulang kali mengikuti kejuaraan, bahkan kejuaraan senior. Ketika bermain di luar Jatim, mereka bermain sangat meyakinkan,” tambah Koko.

Hal yang sama diutarakan Ketua PBSI Jatim, Wijanarko yang mengaku melatih anak-anak di sebuah kejuaraan penting, tidak sama dengan seniornya.

”Mereka jangan dibebani target, biarkan mereka bermain tanpa memikirkan kemenangan. Mereka masih anak-anak, dan itu adalah hal yang wajar,” kata Wijanarko.

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok. LIKE Facebook Page www.facebook.com/SURYAonline FOLLOW www.twitter.com/portalSURYA

Tags
petenis
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved