Liputan Khusus Teh AIDS
Pesan Ayah Membuat Pria Ini Nikmati Pertemanan Dengan Penderita HIV/AIDS
Pesan itu pula yang membuatnya begitu menikmati pertemanan dengan para penderita HIV/AIDS.
SURYA Online, SURABAYA - Pesan almarhum ayah menancap dalam memori Prof Dr Nasronudin, SpPD K-PTI, FINASIM.
Pesan itu pula yang membuatnya begitu menikmati pertemanan dengan para penderita HIV/AIDS.
SelamA dua dekade ia menangani pasien HIV/AIDS. Tapi jangan tanya berapa jumlahnya. Sebab ia memang tidak pernah menghitungnya.
Yang pasti, ia tidak pernah menolak pasien yang datang, sekalipun dari keluarga sangat miskin. Pesan almarhum ayahnya benar-benar mengilhami profesinya.
”Ambil kedokteran agar kami bisa mengobati orang tuamu dan orang lain yang tidak mampu,” katanya, menirukan nasihat ayahnya pada 1976.
Nasihat itu diberikan saat Nasron, begitu panggilan akrab Nasronudin, hendak menentukan pilihan, Fakultas Teknik atau Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang yang sama-sama menerimanya. Nasron pun mantap memilih kedokteran.
Lulus kedokteran, nasihat sang ayah terus membimbing jalan Nasron, misalnya, ia tak pernah mematok tarif bagi para pasiennya.
Bahkan, ia menjalin hubungan layaknya bersaudara dengan mereka.
Menangani pasien HIV, Nasron menggabungkan metode pengobatan klinis dan psikologis.
Metode klinis berfungsi melawan penyebaran virus HIV/AIDS, sedangkan sentuhan psikologis untuk membebaskan kejiwaan pasien dari beban psikososial.
Sentuhan ini penting karena, umumnya pengidap HIV mendapatkan stigma buruk dari masyarakat.
”Pasien harus dibangkitkan. Ia harus bisa bekerja dan beraktivitas seperti orang pada umumnya. Kalau badannya kurus, dibantu agar gemuk. Kalau kulitnya iritasi berat, harus disembuhkan,” katanya.
Model pendekatan ini diapresiasi manajemen sebuah rumah sakit swasta tempat Nasron berpraktik. Rumah sakit itu pun mengubah sistem pelayanan mereka.
”Dokter dan perawat di sana sangat peduli. Sampai-sampai kami dan manajemen datang ke rumah pasien. Misalnya memenuhi undangan selamatan. Upaya yang sederhana namun sangat membantu mereka melawan stigma,” ujarnya.
Perhatian Nasron pada pasien HIV juga ditunjukkan dengan ikut membidani lahirnya Unit Intermediet Penyakit Infeksi (UPIPI) RSU Dr Soetomo yang hingga kini diandalkan pengidap HIV untuk menyambung nyawa.
Di UPIPI, unit ini, selain dokter, banyak relawan HIV/AIDS yang dilibatkan.
Mereka mendampingi dan memberikan dukungan moral. Peran mereka sangat untuk menunjang upaya medis. Kini UPIPI menjadi unit rujukan dari Indonesia Timur. (idl)
Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok
LIKE Facebook Surya - http://facebook.com/SURYAonline
FOLLOW Twitter Surya - http://twitter.com/portalSURYA