Pernik Pernik Pasar Seni Lukis Indonesia
Aroma Tubuh si Mbok Perkuat Ide Cak Min
Meski objek yang dilukis kehidupan di pasar tradisional, peminat karyanya banyak dari kalangan pejabat pemerintahan dan pengusaha.
Penulis: Achmad Pramudito | Editor: Achmad Pramudito
SURYA ONLINE, SURABAYA - Pelukis sebagai seniman memang butuh proses tak mudah untuk menorehkan warna-warni dari kuasnya di atas kanvas. Tak sekadar membidik objek lukisan, tapi juga mengenal sosok yang akan dilukisnya secara dekat, bahkan sampai aroma tubuhnya sekali pun.
Karena itu pula, Cak Min Mustamin perlu berhari-hari nongkrong di pasar untuk mengabadikan kegiatan di Pasar Klaten. Tak cukup dengan itu. Cak Min juga melakukan dialog dengan ibu-ibu yang hilir mudik di pusat perdagangan tradisional tersebut.
Tak heran bila Cak Min dapat julukan pelukis si Mbok. “Karakter suara dan aroma tubuh ibu-ibu ini memperkuat ide saat melukis,” kata Cak Min saat ditemui di stannya di Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) di Jx International Surabaya beberapa hari lalu.
Menurut pria asal Krian, Sidoarjo ini, si mbok-mbok yang setiap hari dijumpainya di pasar itu justru lebih kuat dari kaum pria. “Mereka sudah beraktivitas mulai pagi, naik sepeda ontel dari rumah ke pasar, dan berada di sana sampai sore. Ketika kembali ke rumah pun masih melakukan sederet kerjaan rutin rumah tanpa lelah, tanpa mengeluh,” ungkapnya.
Kerja keras si mbok ini, lanjut Cak Min, patut diacungi jempol. Karena meski rumah mereka kebanyakan masih bertahan dalam kondisi gubuk, tapi anak-anak mereka bisa dipastikan duduk di perguruan tinggi. “Mereka kerja keras agar anaknya bisa menempuh pendidikan tinggi. Bagi mereka, pendidikan tinggi ini penting agar masa depan anak mereka bisa lebih baik lagi,” papar Cak Min yang mengaku yatim piatu sejak kecil.
Kekaguman pada sosok si mbok inilah yang membuat semua objek lukisannya seputar pedagang di pasar tersebut. “Selain itu, ini juga wujud kerinduan saya pada sosok ibunda, yang tidak bisa saya kenal secara utuh karena meninggal saat saya masih kecil,” kisahnya.
Cak Min tak pernah bosan membidik kehidupan para mbok di pasar ini lewat kamera, sebelum kemudian menuangkannya di atas kanvas. Itu dilakukan untuk menangkap objek secara detil hingga ke lipatan bajunya.
Senyum adalah guratan yang tak pernah hilang dari wajah-wajah si mbok ini. “Itu sebagai wujud semangat mereka yang tak pernah pudar. Sesulit apa pun kehidupan mereka, seberat apa pun beban yang ditanggung, mereka hadapi dengan tersenyum,” begitu urai anak keempat dari lima bersaudara ini.
Jangan harap pula mendapatkan sosok si mbok yang kurus kering. Para pedagang di pasar ini semua digambarkan bertubuh subur. Yang juga unik, tak jarang Cak Min menyisipkan si mbok saat menggunakan pesawat handphone.
“Jangan remehkan kehidupan mereka. Mereka ini tangguh. Kaum pria saja kalah. Mereka juga selalu senang jalani kehidupannya, karena itu tubuh mereka gemuk, sebagai ekspresi kemakmuran,” bebernya.
Dan batik adalah busana yang membelit di semua objek lukis Cak Min. “Saya tak ingin mengubah apa pun yang saya lihat dalam keseharian mereka. Selain juga upaya untuk melestarikan batik tentunya. Karena saya ingin siapa pun yang mengoleksi lukisan saya, turut membawa batik ini dalam keseharian mereka,” begitu harapnya.
Kekhasan inilah yang membuat karya Cak Min banyak dikoleksi penikmat lukisan dari beragam status sosial. Mulai pejabat di pemerintahan maupun pengusaha. Cak Min pun menyebut seorang pejabat di Polrestabes Surabaya termasuk salah satu penggemar lukisannya.
Soal harga, pelukis yang sering mengisi ajang pameran sejak tahun 1990 di Jakarta ini mengaku belum berani mematok angka hingga ratusan juta rupiah. Tanpa menyebut nominal pasti, Cak Min yang pernah melukis di atas media kanvas ukuran 3x2 meter ini menyebut lukisannya masih kisaran puluhan juta rupiah.
Cak Min yang terus mengikuti perkembangan PSLI ini mengaku selalu antusias gabung dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Sanggar Merah Putih ini. Omset penjualan yang menjanjikan membuat peserta terus meningkat.
Dari catatan Surya, di awal kegiatan PSLI di tahun 2008 hanya diikuti 80 peserta, dan tahun lalu (2013) membengkak jadi 250 peserta dari seluruh Indonesia. Nilai traksaksi yang diperoleh pun luar biasa, yaitu sebesar Rp 900 juta di awal pelaksanaan PSLI menggelembung jadi Rp 2,3 miliar.