Senin, 13 April 2026

Film Horor Jepang Kenalkan Berbagai Karakter Jin

Film kartun ini memang bertema tentang yokai (jin, hantu, dan setan), tetapi ceritanya justru memancing gelak tawa penonton.

Penulis: Musahadah | Editor: Parmin

SURYA Online, SURABAYA – Film horor umumnya membuat bulu begidik dan jantung berdebar. Tetapi tidak dengan film horor asal Jepang berjudul Sampei si Kappa. Film kartun ini memang bertema tentang yokai (jin, hantu, dan setan), tetapi ceritanya justru memancing gelak tawa penonton.

Hal ini terlihat saat pemutaran film yang digelar di R Soeparman Hadipranoto, Universitas 17 Agustus 1945, Surabaya, Kamis sore (2/10/2014).

Film itu menceritakan pertemuan antara Sampei, seorang anak yang berobsesi menjadi juara renang agar hadiahnya bisa dipakai menyusul ibunya ke Tokyo. Nahas, ketika sedang berlatih renang, Sampei  justru tenggelam dan akhirnya dia masuk dalam dunia jin.

Di sana dia bertemu beragam yokai  seperti Kappa , jin berwarna hijau, memiliki cengkerang keras di belakang, paruh di mulut dan piring di kepala. Ada juga Oni, sejenis jin yang memiliki badan seperti manusia, tanduk di atas kepala dan dipercaya suka menculik manusia dan memakannya. Di masyarakat Jepang Oni merupakan lambang penyakit dan musibah.

Selain Oni juga ada Shinigami, malaikat kematian atau pencabut nyawa manusia. Interaksi antara Sampei dengan  para yokai ini justru tidak menimbulkan  ketegangan tetapi kelucuan dan gelak tawa.

Morohira Kaori, Konsul Muda Bidang Budaya, Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya mengatakan, pemutaran film ini untuk lebih mengenalkan budaya Jepang  kepada siswa dan mahasiswa yang hadir di acara tersebut. Menurutnya, film ini banyak mengeksplore pesona dan budaya Jepang seperti rumah-rumah tradisional, ritual masyarakat maupun mitos-mitos mengenai  yokai.

“Orang Indonesia banyak percaya hantu dan jin. Karena itu kami pilih film ini yang meskipun horor, tetapi banyak komedinya,”katanya.

Film yang diproduksi 15 tahun silam ini juga banyak memberikan pesan-pesan moral dan ajakan untuk melindungi lingkungan.

“Kami sengaja memilih film animasi karena masyarakat Indonesia cukup gemar dengan film animasi Jepang,”akunya.

Kegiatan ini juga dihadiri Rektor Untag Surabaya Prof  Ida Aju Brahmasari, Wakil Rektor I Untag  Andik Matulessy, Dekan Fakultas Sastra Danu Wahyono serta sejumlah pejabat universitas.

Suasana sempat mencekam sesaat sebelum pemutaran film. Tiba-tiba di dalam ruangan yang lampunya dimatikan itu tampak beberapa hantu. Sontak saja kejadian itu membuat penonton yang mayoritas siswa-siswi beberapa SMP/SMA di Surabaya histeris.

Ternyata, hantu-hantu ini adalah mahasiswa dari Program Studi Bahasa Jepang Fakultas Sastra Untag Surabaya yang sengaja berdandan menyeramkan.

“Agar aura film ini benar-benar bisa dirasakan oleh penonton, maka kami siapkan “hantu-hantu” ini untuk ikut  berbaur bersama siswa-siswa,” tutur Zida Wahyuddin, Kaprodi Bahasa Jepang, Untag.

Selain pemutaran film, acara ini juga diisi penjelasan pendidikan di Jepang, beasiswa Kementerian Pendidikan dan sains. Menurut Kaori, tingginya standar pendidikan di Negeri Sakura menjadi faktor penarik minat belajar ke Jepang. Tidak heran jika jumlah pelajar asing di Jepang mencapai 135.519 orang dari berbagai negara.

Mahasiswa Indonesia ada 2410 orang atau 30 persen  dari jumlah penerima beasiswa Jepang.
“Berbagai suku, bangsa, dan agama tentu berbaur menjadi satu. Jadi, bagi yang beragama Muslim jangan khawatir karena di Jepang juga banyak masjid dan makanan yang telah memiliki sertifikasi halal,” tutur Kaori.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved