Pakar Psikologi terkait Pembunuhan
Hubungan Personal Lemah Menyulut Agresivitas Masyarakat
“Masyarakat lebih percaya pada penyelesaian jalanan daripada penyelesaian hukum karena prosedurnya berbelit dan hasilnya tidak maksimal,”kata Andik.
Penulis: Musahadah | Editor: Parmin
SURYA Online, SURABAYA – Banyaknya kasus kekerasan massal yang berujung maut menurut Pakar Psikologi Sosial Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Dr Andik Matulessy disebabkan karena ketidakpercayaan masyarakat pada hukum yang ada. Kondisi ini didorong banyaknya pelaku-pelaku kejahatan yang akhirnya tidak mendapatkan hukuman setimpal di pengadilan.
“Masyarakat lebih percaya pada penyelesaian jalanan daripada penyelesaian hukum karena prosedurnya terlalu berbelit dan tidak memberikan hasil maksimal,”kata Andik yang juga Wakil Rektor 1 Untag.
Menurut Andik, kondisi masyarakat saat ini mudah tersulut untuk berbuat anarkis. Hal itu disebabkan karena hubungan interpersonal dan antar personal di masyarakat lemah. Artinya orang tidak lagi dekat secara emosional satu dengan yang lainnya karena orientasi mereka tidak lagi kedekatan personal tetapi kompetisi untuk materi.
“Lemahnya hubungan personal ini bisa mengarahkan pada perilaku agresif terutama yang dianggap sebagai sebuah kejahatan. Kalau hubungan interpersonal baik, tidak akan mudah agresif,”kata pria asli Bojonegoro.
Terkait tempat ibadah yang kerap menjadi lokasi kejahatan, menurut Andik disebabkan karena tempat ibadah saat ini jumlahnya sangat banyak dan hanya dipakai sebagai sebuah pemenuhan atas tuntutan untuk melakukan rutinitas agama.
Tempat ibadah bukan lagi bernilai agama tetapi memliki nilai sosial. Artinya, tempat ibadah ini sebagai tempat berkumpul, menggelar acara keagamaan atau menyelesaikan masalah-masalah di masyarakat.
Tempat ibadah tidak lagi bermaksa religi sebagai tempat berhubungan dengan sang pencipta.
Karena itu tidak heran jika ditempat ibadah itu orang berani mencuri atau berperilaku negatif lainnya.
“Tempat ibadah bukan murni keagamaan tetapi berubah menjadi lahan sosial untuk komunikasi. Kesakralannya lemah,”tegasnya.
Kondisi ini, lanjut Andik ditambah dengan minimnya tokoh-tokoh agama yang dituakan, memiliki kapasitas serta bisa menjadi panutan.
Tempat ibadah sekarang beralih fungsi sebagai sebuah organisasi serta banyak diisi orang-orang yang memiliki kemampuan mengendalikan masyarakat.
“Padahal dalam konteks agama masih dibutuhkan tokoh agama karena nilai paternalistik di masyarakat masih berlaku,”katanya.
Agar hal itu tidak berlanjut, Andik menyarankan perlu revitalisasi dari tempat ibadah maupun tokoh-tokoh yang ada.
“Saat ini dibutuhkan tokoh-tokoh agama yang murni dan mumpuni. Bukan tokoh-tokoh agama yang masuk lahan politik sehingga tidak netral dalam menyikapi persoalan masyarakat. Di sinilah perlunya lembaga pendidikan turun tangan,”tukasnya.