Lipsus Kilau Investasi Emas

Menggugah Minat Melalui Arisan

Banyak kelompok yang sudah mendaftar, dengan ukuran logam mulia yang dipilih mulai satu gram hingga satu kilogram.

Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Tri Dayaning Reviati

SURYA Online, SURABAYA - Hingga saat ini, investasi emas terbukti masih sangat diminati. Kendati harga ‘si kuning’ sendiri cenderung stabil, yang berimbas pada lesunya transaksi penjualan.

Ini bisa terlihat dari antusias konsumen ketika PT Pegadaian Kanwil XII meluncurkan program arisan emas. Caranya, satu kelompok arisan yang diwakili satu orang sebagai penanggung jawab, melakukan perjanjian dengan PT Pegadaian sebagai penyedia emas.

Selanjutnya, bila dana arisan siap, penanggung jawab kelompok bisa membeli di Pegadaian dengan harga pada awal perjanjian. Penerima satu logam mulia itu adalah pemenang arisan, atau namanya keluar sebagai penerima emas PT Pegadaian.

“Angka pasti belum ada, tetapi yang pasti peminatnya lumayan besar. Banyak kelompok yang sudah mendaftar, jumlah maksimal anggotanya juga bermacam-macam, dengan ukuran logam mulia yang dipilih ada yang mulai satu gram hingga satu kg,” ungkap Rita Helmi, Humas PT Pegadaian Kanwil XII Surabaya, pekan lalu.

Sementara itu, Deputi Pimpinan Wilayah (Pimwil) Bidang Administrasi dan Supporting PT Pegadaian Kanwil XII, Supriyanto optimistis program arisan emas, maupuan pembelian emas secara kredit, dan kebijakan peningkatan taksiran harga untuk gadai, bisa mendongkrak minat masyarakat untuk berinvestasi.

“Pasca Lebaran, memang kinerja sempat melambat. Tetapi, peningkatan belanja emas tampak pada minggu kedua Agustus. Umumnya secara kredit. Disisi lain, gadai juga meningkat,” ujar Supriyanto.

Menurut dia, harga emas yang stagnan dipicu penurunan harga emas dunia, yang sudah berlangsung sejak 2013. Akibat kebijakan internasional negara-negara produksen dan konsumen emas dunia yang melakukan pembatasan belanja emas, seperti China, India, dan Rusia.

“Pembatasan ini juga berimbas pada ekonomi Indonesia. Apalagi, baru-baru ini juga ada perhelatan politik, sehingga ada perlambatan orang belanja emas,” lanjutnya.

Saat ini, untuk gadai dan penjualan emas di Pegadaian masih laris manis, kendati ada pelambatan. Akhir Agustus lalu, BUMN ini telah menjual emas, baik perhiasan maupun logam mulia senilai Rp 42,48 miliar. “Nilai itu sekitar 90 kilogram (kg). Target kami hingga akhir tahun ada 150 kg yang disiapkan,” jelas Rita.

Penjualan emas perhiasan ini merupakan barang yang tidak ditebus oleh penggadai dan logam mulia cetakan yang dijual baik secara tunai maupun kredit melalui Pegadaian. “Sekitar 90 persen emas yang dijual memang berupa logam mulia, dibandingkan perhiasan yang dilelang,” katanya.

Soal harga tafsiran gadai, Rita menambahkan bahwa Pegadaian memiliki tata cara dan ukuran tersendiri. Yaitu, menilai dari kondisi sebenarnya pada emas perhiasan yang digadaikan.

“Para penafsir sudah punya rumus dan ilmunya. Sementara, kalau di toko emas, harganya ditambah dengan ongkos pembuatan dan pajak. Ukuran emasnya juga beraneka macam karena ada campurannya,” tambah Rita.

Karena itulah, harga tafsiran emas perhiasan di Pegadaian menjadi lebih banyak dengan aneka ukuran, baik karat maupun ukuran kandungan emas yang ada di perhiasan.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved