Lipsus Kilau Investasi Emas
Belanja Emas Tergantung Prioritas Kebutuhan
Harga perhiasan emas yang stagnan tidak mempengaruhi penjualan. Sejak Juli lalu, memang tidak ada perubahan harga yang signifikan.
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Tri Dayaning Reviati
SURYA Online, SURABAYA - Tren penjualan emas sendiri, ternyata tidak hanya tergantung pada harga komoditas itu di pasar. Untuk beberapa hal juga sangat bergantung pada prioritas belanja kebutuhan masyarakat saat itu.
Kondisi ini disadari betul oleh para pedagang emas di kawasan Jl Blauran dan di mal BG Junction Surabaya. Menurut mereka, harga perhiasan emas yang stagnan pun tidak mempengaruhi penjualan. Sejak Juli lalu, diakuinya, memang tidak ada perubahan harga yang signifikan.
“Minat belanja memang menurun saat masuk bulan Agutustus, karena habis Lebaran. Tapi masih ada yang beli, terutama emas yang dipakai kegiatan pernikahan atau tunangan,” kata Lisa Setyawati, pedagang di kawasan Jl Blauran.
Sementara, belanja perhiasan sebagai investasi, Lisa tidak bisa memprediksi secara pasti. Untuk investasi, rata-rata perhiasan emas yang dibeli dengan karat 75 persen ke atas. “Belanja untuk investasi umumnya dipilih yang ukuran karatnya lebih besar dan bentuk yang lebih sederhana. Padahal, tidak juga seperti itu, karena perhiasan emas berapapun ukuran dan bentuknya, tetap bisa dijual kembali,” jelas Lisa.
Sementara, pedagang emas di BG Junction Nurul Malika mengungkapkan bahwa pada Agustus lalu atau usai Lebaran, sempat ada peningkatan belanja emas perhiasan. Umumnya belanja perhiasan untuk anak-anak, yang dibeli dari uang hasil pemberian selama Lebaran,” ujarnya.
Harga emas perhiasan, sejak Agustus hingga awal September, masih berkisar antara Rp 390.000 hingga Rp 420.000 per gram. Saat ini, aku Lisa dan Nurul, toko emas ikut mengerem penambahan stok di bulan Agustus ini. Mereka memilih untuk menjual stok yang ada dulu.
Sementara, penjualan kembali emas perhiasan, ada peningkatan di minggu kedua Agustus. Umumnya, para ibu-ibu yang habis mudik Lebaran untuk menambah modal. Jumlahnya sekitar 70 persen dari pembelian emas perhiasan.
“Memasuki minggu ketiga Agustus, kondisi stabil dan antara penjualan kembali serta pembelian, sudah seimbang. Kami berharap September ini, akan bergairah lagi belanja emas perhiasannya,” tandas Nurul.