Jalan Pilang – Tulangan Sidoarjo Ditutup
Jembatan penghubung di Jl Raya Pilang – Tulangan atau sebelum Pabrik Gula (PG) Toelangan dibongkar PU Bina Marga Pemkab Sidoarjo.
Penulis: Anas Miftakhudin | Editor: Parmin
SURYA Online, SIDOARJO - Jembatan penghubung di Jl Raya Pilang – Tulangan atau sebelum Pabrik Gula (PG) Toelangan dibongkar PU Bina Marga Pemkab Sidoarjo akibat pelatnya melengkung. Dampak dari pembongkaran jembatan, jalan tesebut ditutup total dan arus lalu lintas dialihkan ke jalan poros desa, Tanggulangin dan Krian.
Penutupan jalan ke arah Tulangan, Krembung, Prambon, atau ke wilayah selatan sudah dipasang pengumuman mulai di perempatan Pilang. Truk dan bus dilarang masuk dan diarahkan memutar lewat Krian atau sekitar 10 KM. Penutupan di ruas Jl Raya Pilang – Tulangan diperkirakan selama 3 bulan karena jembatan tersebut dibongkar total.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, Jl Raya Pilang – Tulangan kondisinya tampak lengang, hanya ada beberapa truk besar yang tujuannya ke beberapa perusahaan yang lokasinya tidak sampai lokasi pembongkaran di Desa Kemantren. Begitu pula angkutan umum jurusan Tulangan - Sidoarjo juga tidak banyak berseliweran karena harus memutar lewat jalan desa yakni Desa Medalem tembus Desa Kemantren.
Kepala Dinas PU Bina Marga Sidoarjo, Ir Sigit Setyawan, menuturkan pembongkaran dan penutupan jalan sudah dilakukan kerja sama antara Polsek Wonoayu dan Polsek Tulangan. Pengguna jalan dari arah utara ke selatan (PIlang-Tulangan) terutama mobil, diarahkan petugas Polsek Wonoayu agar memutar lewat Krian. Dari arah sebaliknya, petugas Polsek Tulangan yang mengarahkan pengguna jalan agar lewat Medalem, tembus, Sidomoro, Suko dan Sidoarjo.
“Sesuai kontrak kerja , pembangunan jembatan sampai akhir Desember. Mudah-mudahan bisa dipercepat,” tuturnya.
Jembatan yang dibongkar sejak, Senin (8/9/2014) kemarin, masih belum dapat separo jembatan, karena pembongkarannya dengan cara manual atau dibetel. Untuk membetel beton jembatan yang cukup tebal melibatkan sekitar 10 orang. Diperkirakan pembongkaran dengan cara tradisional itu memakan waktu sekitar lima hari lagi. Siang kemarin, sebuah crane mulai menurunkan batu kotak ukuran 1 m2 ke sungai untuk menghambat air.
Pembangunan jembatan yang menghubungkan Tulangan – Pilang dan daerah lain itu menggunakan box culvert. Cara tersebut dipilih selain waktunya cepat juga kuat. Apalagi kondisi sungai di sungai itu terus mengalir deras sehingga pemasangan box culvert tidak terlalu terganggu. Berbeda dengan pengecoran yang menunggu tidak ada air.
“Jembatan itu pernah diperbaiki pada tahun 1995/1996. Karena kondisi pelatnya melengkung dan muncul kekhawatiran akhirnya dibongkar agar pengguna jalan aman dan nyaman,” jelas Sigit.
Menurutnya, jembatan itu sudah diwacanakan dibongkar tahun 2013 lalu. Tetapi pembongkaran diundur karena dana untuk pembongkaran jembatan tidak cukup. “Akhirnya pembongkaran dilakukan tahun ini,” ungkapnya.
Sopir truk, pengguna mobil pribadi dan kendaraan bermotor memaklumi jika jembatan tersebut dibongkar. Kondisi jembatan sebelum dibongkar kondisinya melengkung di bagian tengah dan aspalnya mengembang. Jembatan itu jika dilewati truk bermuatan berat terlihat bergetar sehingga memunculkan kekhawatiran jika sampai ada truk yang terjerambab.
Konstruksi jembatan yang tengah dibongkar, di bagian bawah banyak melintang besi dan bagian atasnya dicor. Kondisi besi bagian bawah juga terlihat berkarat dan ada beberapa yang rapuh. “Jalan sini kan ramai terutama banyak truk yang melintas. Kalau ada trailer melintas jembatan itu seperti terdorong ke bawah,” ujar Arifin warga Tulangan.
Terkait dampak dari pembongkaran jembatan,sebagian pengguna jalan mengeluh karena harus memutar lewat jalan Desa Kemantren dan memutar di Sudimoro.
“Memang sih jaraknya agak jauh. Biasanya dari Pilang ke Tulangan lurus tapi ini harus memutar dulu. Mudah-mudahan pembangunan jembatan cepat diselesaikan agar jalan normal kembali,” tutur Bagio, warga Pilang yang akan ke Tulangan.