Rabu, 8 April 2026

KH Wahab Tokoh di Balik Dekrit Presiden 5 Juli 1959

Di tangan Kiai Wahab, sambungnya, semua permasalahan selalu dapat dipecahkan.

Penulis: Sutono | Editor: Satwika Rumeksa

SURYA Online, JOMBANG-Tak banyak yang tahu, Dekrit Presiden Soekarno 5 Juli 1959 yang salah satu isinya pembubaran konstituante, tak lepas dari KH Wahab Chasbullah, salah satu pendiri NU.

Informasi itu disampaikan kiai sepuh asal Sidoarjo, KH Soleh Qosim, saat mengahadiri sarasehan launching buku ‘KH Wahab Chasbullah: Kaidah Berpolitik dan Bernegara di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Rabu (3/9/2014). Sarasehan itu sendiri dalam rangkaian haul ke-43 KH Wahab.

"Saya lupa tahun berapa. Namun Kiai Wahab pernah menyampaikan, dekrit presiden merupakan konsep beliau. Karena saat itu antara Kiai Wahab dengan Presiden Soekarno sangat dekat," kata KH Soleh di hadapan ratusan peserta sarasehan.

Kiai Soleh mengatakan, sepeninggal Rais Akbar NU Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari, Kiai Wahab menjadi jujukan para ulama ketika ada permasalahan di tubuh NU.

Di tangan Kiai Wahab, sambungnya, semua permasalahan selalu dapat dipecahkan. "Karena itu beliau sangat dekat dengan para ulama. Setiap ada permasalahan, Kiai Wahab siap memberi solusi," kata KH Soleh Qosim.

Sarasehan sendiri menghadirkan tiga narasumber. Yakni Choirul Anam, tokoh NU yang juga mantan Ketua Pengurus Ansor Jatim, Anhar Gonggong, sejarawan dari Universitas Indonesia, serta Abdul Mun'im DZ, Wasekjen PBNU.

Cak Anam usai acara mengaku, soal dekrit, tidak tahu persis. Namun antara Kiai Wahab dan Presiden Soekarno memang teman dekat. “Karena mereka sering bertemu dan berdiskusi di kediaman HOS Cokroaminoto di Jalan Peneleh Surabaya," kata Cak Anam, sapaan Choirul Anam.

Sejarawan UI Anhar Gonggong lebih menyoroti cara-cara dialog yang dilakukan oleh Kiai Wahab dalam pergerakan nasional. Hingga kemudian cara-cara dialog itu juga yang dilakukan oleh para pemuda sebelum Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan.

Abdul Mun'im DZ mengungkapkan perjuangan KH Wahab NU banyak yang terlepas dari halaman sejarah. Padahal, berdirinya NKRI itu tidak lepas dari peran ulama seperti Kiai Wahab.

Makanya, lanjut Mun'im, PBNU sedang menyusun buku tentang kiprah para ulama NU dalam sejarah Indonesia. "Kita sedang mengumpulkan data-data. Karena sejarah NU harus kita susun sendiri," kata Mun'im.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved