Gas Buang Knalpot Bisa untuk Charger Ponsel
Di tangan Mahasiswa Teknik Manufaktir, Universitas Surabaya Chandra Sudomo Halim,gas buang kendaraan bermotor justru menjadi sumber energi alternatif.
Penulis: Musahadah | Editor: Parmin
SURYA Online, SURABAYA – Asap kendaraan bermotor selama ini penyumbang polusi udara cukup tinggi. Tetapi di tangan Mahasiswa Teknik Manufaktir, Universitas Surabaya Chandra Sudomo Halim, asap (gas buang) kendaraan bermotor ini justru menjadi sumber energi alternatif yang sangat bermanfaat.
Tekanan angin dari gas buang kendaraan ini dapat menghasilkan energi listrik yang dapat mengisi baterai ponsel maupun power bank.
Untuk membuatnya, Chandra menambahkan baling-baling plastik atau kipas angin kecil di ujung knalpotnya. Baling-baling ini ditambahkan penyangga sehingga dapat dipasangkan di knalpot motor.
”Baling-baling plastik ini saya ambil dari CPU komputer yang tak terpakai,”aku Chandra saat ditemui di kampusnya, Rabu (3/9/2014).
Ketika mesin motor dinyalakan, otomatis akan mengeluarkan gas buang. Gas buang ini baru bisa memutarkan baling-baling jika kecepatan motor sudah berada minimal 20 km/jam.
Baling-baling yang berputar ini akhirnya menghasilkan listrik yang kemudian dialirkan ke komponen listrik yang ada di bagian jok motor. Selanjutnya tegangan listrik itu akan distabilkan menjadi 5 volt untuk mempermudah penggunaannya. Dan ponsel maupun power bank tinggal dicolok di stabilisator dan baterainya pun langsung terisi.
”Ponsel dan power bank ini bisa disimpan di jok motor sehingga aman,”kata mahasiswa asal Tarakan, Kalimantan Utara. Untuk bisa mengisi power bank 3.500 mA dibutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat jam.
”Kalau satu jam perjalanan mungkin baru bisa berisi 30 hingga 40 persen. Jadi ini memang sangat tepat untuk mereka yang suka bepergian jauh agar tidak khawatir kehabisan daya ponselnya,”kata mahasiswa kelahiran 5 Januari 1994.
Diakui Chandra, ide pembuatan alat yang dia namakan Electric Emission Mobile Charger (E2MC) ini berawal ketika dia mendapat tugas kuliah Desain Produk I dan II. Saat itu dia diminta membuat penemuan baru. Dia pun langsung terpikir untuk membuat sumber energi alternatif atau energi terbarukan.
Saat sedang mengendarai motor di jalan, dia menemukan ide ketika ada motor di depannya mengeluarkan asap dengan tekanan tinggi ke mukanya.
”Dari situ saya berpikir semakin cepat kecepatan motor, maka semakin besar gas buang yang dihasilkan. Itu artinya ada sumber energi yang dibuang di sini,”kata anak bungsu dari enam bersaudara pasangan Heriyanto Halim - Melly.
Chandra pun mulai memutar otak untuk memanfaatkan gas buang ini menjadi sumber energi. Butuh waktu setahun untuk dia mencari referensi dan memulai penelitiannya. “Puluhan kali saya gagal merancang komponen listriknya. Komponen yang saya buat sering error sehingga tidak bias dipakai,”akunya.
Chandra tidak patah semangat. Dia terus mencoba hingga akhirnya dia menemukan komponen yang pas dan langsung membuat prototipe-nya.
E2MC gampang dilepas dan dipasang sesuai dengan kebutuhan pengendara. Perawatannya pun sederhana, pengendara hanya perlu membersihkan E2MC terutama pada bagian dalam baling-baling setiap 1000 km.
Karya inovatif ini diikutkan dalam International Invention Inovation and Desain (3D) di Universiti Teknologi Mara (UiTM), Segamat, Johor, Malaysia 20 Agustus 2014. Hasilnya, Chandra berhasil meraih medali emas kategori Inovation.
Belum lama ini Chandra mendaftarkan karya ciptaannya ini ke dirjen hak atas kekayaan intelektual
(HAKI) untuk mendapat hak paten. Jika hak paten diterima, dia berencana akan memproduksi masal karyanya. Dia pun sudah menghitung-hitung harga pasar untuk produknya ini.
”Mungkin saya akan jual Rp 180.000 per unit. Itu sudah termasuk power bank 3.000 mA dan komponen listriknya,”katanya.
Dosen Pembimbing Sunardi Tjandra mengatakan, karya inovasi ini sebagai salah satu jawaban untuk membantu menyelesaikan isu global.
”Ide Chandra yang memanfaatkan gas buang knalpot perlu diacungi jempol. Dengan memanfaatkan teknologi yang sederhana, Chandra mampu memanfaatkan limbah knalpot menjadi energy yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari hari masyarakat. Kedepan adik tingkatnya juga mampu berinovasi sehingga mampu membantu mengatasi isu global, ” katanya.