Kadis Koperasi Sidoarjo Raih Doktor
Tanggalkan Jabatan untuk Dekati Istri Sopir
Pejabat kelahiran Surabaya 13 Aril 1967 ini justru dikukuhkan sebagai doktor Fakultas Kedokteran Unair, Selasa (2/9/2014).
Penulis: Musahadah | Editor: Parmin
SURYA Online, SURABAYA – Lulusan Fakultas Kedokteran umumnya bekerja di bidang kesehatan. Tetapi hal itu tidak berlaku bagi Fenny Apridawati, Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, Perdagangan dan ESDM Pemkab Sidoarjo.
Pejabat kelahiran Surabaya 13 Aril 1967 ini justru dikukuhkan sebagai doktor Fakultas Kedokteran Unair, Selasa (2/9/2014).
Dalam disertasinya, ibu tiga anak ini mengambil judul Model Pencegahan HIV-AIDS berbasis pemberdayaan perempuan pada ibu dengan suami risiko tinggi di Sidoarjo. Disertasinya ini diselesaikan hampir tiga tahun.
”Sebenarnya saya sudah memulai penelitian dan seminar proposal pada Maret 2011. Tetapi karena saat itu saya pindah di dinas sosial dan ketenagakerjaan, jadi mutung dan baru dimulai lagi Oktober 2013 lalu,”kata Fenny usai sidang terbuka doktoral yang dihadiri Rektor Unair Prof Fasichul Lisan, Kapolrestabes Surabaya Kombespol Setija Junianta, dan Bupati Sidoarjo Saiful Illah di aula FK, Unair, Selasa (2/9/2014).
Penelitiannya ini dilakukan di sela-sela waktu istirahatnya atau ketika pulang kerja. Fenny berusaha menyempatkan waktu untuk menemui 180 respondennya, ibu rumah tangga yang memiliki suami risiko terinfeksi HIV-AIDS di Sidoarjo. Suami berisiko HIV/AIDS ini dia batasi para sopir truk pengantar barang dan sopir bus.
Fenny pun harus menanggalkan statusnya sebagai salah satu pejabat ketika turun ke responden. ”Ketika pulang kantor saya lepas semua atribut ini lalu saya menemui mereka. Mereka tidak tahu itu (jabatannya sebagai kadis koperasi), jadi enak bicaranya tidak tertekan,”kata alumnus Pascasarjana Ilmu Keokteran (Epidemologi) Unair.
Pernah salah satu responden menanyakan pekerjaannya, Fenny mengatakan bahwa dia seorang peneliti yang kebetulan bertugas di pemkab Sidoarjo.
”Sampai sekarang mereka tidak tahu itu,”kata adik Ketua Senat Unair Prof Fendy Suhariadi.
Pendekatan itu ternyata berhasil. Para responden yang sebelumnya agak tertutup dan tidak mau diwawancara akhirnya mau mencurahkan isi hatinya ke Fenny. Dari 180 responden yang diambil 65 persen di antaranya sering ditinggal suaminya bermalam di luar kota lebih dari tiga hari. Dari situ dapat diduga bahwa suami mereka sering berselingkuh di luar.
Fenny bahkan pernah mengalami kejadian ketika seorang istri sopir didatangi perempuan yang mengaku selingkuhan suaminya dan memiliki anak dari hubungan itu.
Dari temuannya ini, suami Pipik Ruswandi ini akhirnya merumuskan sebuah model pencegahan HIV-AIDS dengan pemberdayaan perempuan komunitas. Dipilihnya pendekatan komunitas karena menurutnya ketika individu sudah berdaya belum tentu mereka akan menularkannya pada komunitas lainnya.
Pendekatan sosial yang dipakai Fenny sempat dikritik pimpinan sidang karena kurang mengulas sisi kedokterannya. Dan Fenny pun memiliki jawaban cerdas untuk ini. ”Ini kedokteran sosial yang sangat penting karena bagian dari upaya pencegahan primer dan primordial atas permasalahan-permasalahan kesehatan yang akan terjadi,”katanya.
Disiplin tentang disiplin ilmu yang tidak ada kaitannya dengan jabatannya sekarang, Fenny membantahnya. ”Justru ini kaitannya sangat dekat karena pemberdayaan perempuan di sini akan menguatkan sektor ekonomi. Dan ini pekerjaan saya,” tandasnya.