Breaking News:

Puter Kayun, Tradisi Napak Tilas Pembuatan Jalan Watudodol warga Banyuwangi

"Ini memang khasnya Desa Boyolangu, ada kebo-keboan sebelum puter kayun," kata Santoso, warga Boyolanggu.

Penulis: Wahyu Nurdiyanto | Editor: Satwika Rumeksa
Puter Kayun, Tradisi Napak Tilas Pembuatan Jalan Watudodol warga Banyuwangi
surya/wahyu nurdiyanto
Arak-arakan andhong bagian tradisi Puter Kayon, yang merupakan napak tilas pembuatan jalan pantura Watudodol, saat melintas di jalan Gatot Subroto, Banyuwangi, Rabu (6/8/2014).

SURYA Online, BANYUWANGI-Tradisi napak tilas pembuatan jalan yang menghubungkan Banyuwangi sisi utara atau jalur pantura dengan daerah lain dilaksanakan oleh masyarakat Desa Boyolanggu, Kecamatan Giri, Rabu (6/8/2014).

Napak tilas yang disebut Puter Kayun ini dilaksanakan dengan mengelar arak-arakan mengunakan dokar atau andong dari Boyolanggu menuju kawasan Watudodol, yang merupakan wilayah pintu masuk menuju Banyuwangi dari arah utara.

Bertempat di dekat kantor Kelurahan Boyolanggu, 20 andong yang sudah hias memulai perjalanan menuju kawasan Watudodol yang berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Banyuwangi.

Diawali dengan pembacaan doa, andong-andong ini bergerak dengan perlahan untuk memulai prosesi yang digelar setiap 10 syawal atau 10 hari sesudah lebaran Idul Fitri.

"Tradisi ini sudah berjalan ratusan tahun ini. Entah sejak pasnya sudah mulai tahun kapan, yang jelas setelah era pembuatan jalan Anyer-Panarukan yang kemudian dilanjutkan Panarukan-Banyuwangi," tutur
Ketua Adat Paguyuban Boyolangu, Rugito.

Sebagai informasi, De Grote Postweg atau Jalan Raya Pos dari Anyer ke Panarukan dibangun pada era Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang ke-36. Daendels memerintah antara tahun 1808-1811.

Rugito menjelaskan, saat itu, jalur pantura yang keluar atau menuju Banyuwangi belum ada dan seorang tetua desa bernama Jakso bersemedi dan mendapatkan wahyu atau petunjuk untuk membuat jalan menembus gunung batu yang berada di sisi selat Bali.

"Petunjuknya adalah ndodol (membongkar) watu yang ada di dekat laut sebagai akses jalan. Karena itulah akhirnya di kawasan itu disebut Watudodol atau batu dibongkar," cerita Rugito yang mengaku sebagai keturunan ke empat dari Jakso.

Ceritanya, upaya menembus batu besar berhasil dengan sukses dan untuk merayakannya, setiap tanggal 10 syawal dilaksanakan upacara puter kayun sebagai wujud syukur dan kegembiraan usai berpuasa sebulan penuh.

Sebagai wujud syukur, dilaksanakan selamatan desa dan tamasya ke Watudodol sebagai bentuk luapan kegembiraan.

"Puter artinya yang berputar-putar atau keliling sedangkan Kayun artinya bersenang-senang. Karena dulu alat transportasinya andong ya pakai andong untuk muter-muternya," lanjut Rugito.

Arak-arakan andong ini menarik minat warga Banyuwangi, khususnya yang rumahnya berada di dekat jalur napak tilas Puter Kayun.

Banyak warga menonton bahkan ikut mengiringi rombongan hingga tiba di Watudodol dan rombongan bertamasya di pantai Watudodol.

Sebelumnya, untuk menyambut puter kayun,  warga Desa Boyolanggu sehari sebelumnya mengelar tradisi bersih-bersih desa dengan mengarak kebo-keboan dan mengelar aneka kesenian, seperti kunthulan, barong, gandrung dan hadrah.

"Ini memang khasnya Desa Boyolangu, ada kebo-keboan sebelum puter kayun," kata Santoso, warga Boyolanggu.

Keunikan tradisi puter kayun membuat pemerintah Kabupaten Banyuwangi berencana memasukkan acara ini dalam Banyuwangi Festival.

Maksudnya sudah jelas, mengaet lebih banyak wisatawan lokal maupun mancanegara untuk mengetahui lebih banyak budaya khas Banyuwangi.

"Nanti akan diusulkan masuk kalender tetap wisata Banyuwangi. Karena ini memang unik dan hanya ada di Boyolanggu," kata Wiyono, asisten I Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang melepas start Puter Kayun.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved